JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto pada Senin (8/9/2025) resmi menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Pergantian ini dilakukan di tengah sorotan media internasional dan menyusul serangkaian demonstrasi besar di berbagai kota di Indonesia sejak akhir Agustus hingga awal September 2025. Analis menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi Prabowo meredakan tekanan politik domestik.
Keputusan reshuffle kabinet ini menarik perhatian media asing, yang melihatnya sebagai respons terhadap gejolak politik dan tuntutan publik.
Kantor berita Reuters, dalam laporannya, menyoroti janji Purbaya untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo, dengan menyebutnya “tidak mustahil”.
Purbaya menekankan pentingnya peran sektor swasta dan pemerintah dalam mencapai akselerasi tersebut, sembari menegaskan tidak akan mengenakan pajak baru.
Untuk meredam dampak protes, Purbaya menjanjikan pertumbuhan ekonomi di kisaran 6-7 persen. “Mereka (rakyat) akan sibuk mencari kerja dan makan enak, bukan lagi turun ke jalan,” ujarnya, sebagaimana dikutip media Inggris tersebut.
Media Malaysia Business Today mengulas rekam jejak Purbaya Yudhi Sadewa. Pria berusia 61 tahun ini meraih gelar master dan doktor di bidang ekonomi dari Purdue University, Amerika Serikat.
Purbaya memiliki pengalaman panjang di pemerintahan dan sektor keuangan, termasuk pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Maritim dan Energi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Ia juga pernah menduduki posisi Staf Khusus Bidang Ekonomi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman serta Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Sebelum menjadi Menteri Keuangan, Purbaya adalah Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2020 dan pernah memimpin perusahaan sekuritas milik negara, Danareksa.
Media The Star memberitakan pengangkatan Purbaya sebagai bagian dari reshuffle kabinet yang lebih luas, termasuk pembentukan Kementerian Haji dan Umrah, sebagai upaya Prabowo meredakan ketegangan politik pasca-demonstrasi.
The Star melengkapi profil Purbaya, menyebutnya sebagai teknokrat berusia 61 tahun dengan latar belakang pendidikan teknik elektro dari ITB sebelum melanjutkan studi ekonomi di Purdue University.
Media ini menilai pengalaman Purbaya menjadi modal penting, meskipun tantangan fiskal yang dihadapinya saat ini jauh lebih berat.
Keputusan pergantian menteri keuangan langsung memengaruhi pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun 1,3 persen, sementara obligasi global Indonesia melemah.
Meskipun nilai tukar rupiah relatif stabil, investor disebut masih menantikan sinyal kebijakan fiskal yang jelas dari Purbaya.
Beberapa ekonom menyuarakan keraguan. Fadhil Hasan dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai Purbaya adalah ekonom yang baik, namun belum teruji secara langsung mengelola fiskal negara. “Ia bukan pilihan terbaik,” kata Fadhil, dikutip Reuters.
Tantangan besar menanti Purbaya, termasuk memastikan ruang fiskal untuk program prioritas Presiden Prabowo seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia juga harus mampu menavigasi gejolak politik dan tekanan publik terkait kebijakan anggaran. Media asing sepakat bahwa efektivitas Purbaya belum dapat diukur saat ini, dengan Reuters menyebut pengalamannya di bidang ekonomi lebih banyak bersifat teknis, bukan langsung dalam pengelolaan fiskal negara.







