Berita

Liga Arab Gelar KTT Darurat di Doha, Bahas Serangan Israel

143
×

Liga Arab Gelar KTT Darurat di Doha, Bahas Serangan Israel

Sebarkan artikel ini
d38941b7de2d9f0be5aac9f76e6a35df.jpg
d38941b7de2d9f0be5aac9f76e6a35df.jpg

Doha – Qatar menggalang dukungan regional dan global setelah serangan udara Israel menargetkan para pemimpin Hamas di ibu kota Doha pada 9 September 2025. Insiden ini dinilai sebagai pelanggaran kedaulatan yang memicu kecaman keras dari negara-negara Arab dan Liga Arab. Sebagai respons tegas, Qatar akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) darurat Arab-Islam pada Senin (15/9/2025) besok.

KTT tersebut diharapkan menjadi respons paling kuat sejak serangan tersebut. Dr. Majid bin Mohammed Al-Ansari, Penasihat Perdana Menteri sekaligus Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, mengonfirmasi pertemuan darurat ini melalui akun resminya, menyatakan bahwa perkembangan terkini di kawasan menjadi alasan utamanya.

Sejumlah pemimpin negara Arab, termasuk Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohamed, telah mengunjungi Doha untuk menunjukkan solidaritas. UEA dan Bahrain, yang merupakan bagian dari Perjanjian Abraham, juga menganggap serangan Israel sebagai kemunduran besar bagi upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Gaza.

Serangan Israel pada Selasa (9/9/2025) itu langsung dikecam oleh negara-negara tetangga Qatar di Teluk sebagai pelanggaran kedaulatan. Al-Ansari menambahkan, KTT nanti akan membahas rancangan pernyataan mengenai serangan Israel terhadap Qatar, yang telah diajukan dalam pertemuan para menteri luar negeri Arab dan Islam sehari sebelumnya.

Serangan udara ke Doha menandai kali pertama Israel melakukan tindakan tersebut, meskipun Qatar dikenal sebagai sekutu utama Amerika Serikat di luar NATO. Selama ini, Doha juga berperan penting dalam upaya mediasi konflik Gaza.

Mesir, sebagai negara dengan militer terbesar di Timur Tengah, kini dilaporkan mendorong proposal pembentukan pasukan militer gabungan Liga Arab, sebuah ide lama yang sempat muncul pada 2015. Proposal ini kembali dipertimbangkan setelah serangan Israel menargetkan pemimpin Hamas di Qatar, dengan Kairo diusulkan sebagai markas pasukan dan posisi komandan dirotasi di antara 22 anggota Liga Arab.

Insiden ini turut menimbulkan pertanyaan baru mengenai masa depan normalisasi hubungan dengan negara-negara Teluk. Perjanjian Abraham, yang ditandatangani hampir lima tahun lalu, sempat membuka wacana kerja sama pertahanan. Namun, perang berkepanjangan sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan eskalasi konflik di Lebanon, Suriah, Irak, serta Yaman, kini mengubah arah pembicaraan.

Alih-alih bermitra, negara-negara Arab semakin memandang Israel sebagai kekuatan yang memicu instabilitas di kawasan.

Mantan Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu, menilai serangan Israel ke Qatar memperburuk rasa tidak aman. “Tidak seorang pun di Timur Tengah merasa aman di tengah meningkatnya rasa bahwa pemerintah Israel memicu ketidakstabilan di seluruh kawasan,” ujarnya. Situasi ini, menurutnya, bisa mempercepat proses pembentukan aliansi baru di dunia Arab atau memicu tren geopolitik yang berbeda.

Meskipun menjadi target, laporan menyebut para pemimpin senior Hamas belum terbunuh dan kemungkinan masih bersembunyi. Doha, yang selama ini menyalurkan bantuan ke Gaza dengan koordinasi Israel, disebut terkejut menjadi sasaran serangan udara.

Masih ada pertanyaan terbuka apakah Hamas masih merasa aman di Doha dan bagaimana langkah Qatar berikutnya. Situasi ini dinilai berpotensi mengubah kalkulasi politik dan keamanan di Teluk maupun Liga Arab.