Jakarta – Populasi manusia di Bumi saat ini dinilai telah melampaui batas kapasitas daya tampung yang berkelanjutan. Studi terbaru dalam jurnal Environmental Research Letters memperingatkan bahwa jumlah penduduk global yang mencapai 8,3 miliar jiwa tidak akan mampu bertahan dalam jangka panjang tanpa memicu kerusakan ekosistem yang parah.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memperburuk perubahan iklim sekaligus mengancam ketersediaan pangan dan air secara global.
Pemimpin penelitian sekaligus Profesor Ekologi Global dari Flinders University, Corey Bradshaw, menegaskan bahwa Bumi tidak lagi mampu menopang pola konsumsi manusia saat ini.
“Bumi tidak dapat mengikuti cara kita menggunakan sumber daya. Bumi tidak dapat mendukung permintaan saat ini tanpa perubahan besar,” ujar Bradshaw, Sabtu (30/5).
Berdasarkan perhitungan tim peneliti, kapasitas populasi global yang berkelanjutan sebenarnya hanya berada di angka 2,5 miliar orang. Angka tersebut didasarkan pada syarat bahwa setiap individu hidup dalam batasan ekologis dengan standar hidup yang aman secara ekonomi.
Dalam riset kolaborasi internasional tersebut, tim menganalisis data lingkungan dan populasi selama lebih dari 200 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa meski pola pertumbuhan penduduk mulai melambat sejak awal 1960-an, jumlah total populasi terus melonjak.
Studi ini memproyeksikan jika tren saat ini terus berlanjut, populasi global kemungkinan mencapai puncaknya pada angka 11,7 hingga 12,4 miliar orang di akhir tahun 2060-an atau 2070-an.
Para peneliti menjelaskan bahwa tingginya populasi saat ini ditopang oleh ketergantungan pada bahan bakar fosil dan konsumsi sumber daya alam yang melampaui kemampuan regenerasi Bumi. Fenomena ini dinilai menyembunyikan efek kelebihan ekologis melalui pertumbuhan industri yang justru mempercepat kerusakan lingkungan serta emisi karbon.
Berbagai risiko yang mengintai meliputi hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan ketahanan pangan dan air, hingga meningkatnya ketimpangan sosial.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa studi ini tidak bermaksud memprediksi keruntuhan peradaban secara mendadak. Riset ini diposisikan sebagai penilaian realistis mengenai tekanan ekologis yang sedang dihadapi dunia.







