Peristiwa

Kualitas Udara Tangerang Terburuk, Kelompok Sensitif Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

12
×

Kualitas Udara Tangerang Terburuk, Kelompok Sensitif Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Sebarkan artikel ini
04baf9d23d41506f95ee0e7ec27ddc0d.jpg
04baf9d23d41506f95ee0e7ec27ddc0d.jpg

Tangerang – Kualitas udara di Kota Tangerang, Banten, tercatat sebagai yang terburuk di Indonesia pada Rabu, 1 Juli.

Data dari platform pemantau kualitas udara global, IQAir, menunjukkan angka Air Quality Index (AQI) mencapai 144 pada pukul 07.08 WIB.

Tingkat polusi tersebut menempatkan Tangerang ke dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Kondisi udara yang buruk ini membawa risiko kesehatan nyata bagi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan.

Risiko tersebut mencakup potensi iritasi pada mata, kulit, dan tenggorokan.

Selain itu, paparan polusi tinggi dapat memicu masalah pernapasan yang lebih serius.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru menjadi kelompok yang paling terdampak.

“Kelompok sensitif memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih besar dan harus sangat berhati-hati,” demikian keterangan resmi IQAir pada Rabu, 1 Juli.

Selain Tangerang, sejumlah kota besar lainnya di Indonesia juga mencatatkan kualitas udara yang kurang baik pada waktu yang bersamaan.

Surabaya, Jawa Timur, berada di posisi kedua dengan skor AQI 116.

Tangerang Selatan, Banten, menyusul dengan angka AQI 115.

Palembang, Sumatera Selatan, mencatatkan angka AQI 107.

Bandung, Jawa Barat, melengkapi daftar dengan angka AQI 106.

Seluruh wilayah tersebut masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Di sisi lain, Pekanbaru, Riau, mencatatkan kondisi udara paling sehat di Indonesia dengan skor AQI 47.

Kota Pontianak, Kalimantan Barat, menyusul dengan skor AQI 55, meskipun masih berada dalam kategori sedang.

Situasi di Indonesia ini kontras dengan beberapa kota besar dunia yang memiliki kualitas udara sangat baik.

Sydney, Australia, memimpin dengan skor AQI 9, diikuti oleh Oslo, Norwegia, dengan skor 10.

Stockholm, Swedia, melengkapi daftar kota dengan udara paling bersih dengan skor 11.

Sebaliknya, kota-kota besar di dunia seperti Lahore, Pakistan, mencatatkan polusi ekstrem dengan AQI 175.

Kampala, Uganda, tercatat memiliki AQI 157, disusul Kinshasa, Kongo, dengan 156.

Delhi, India, dan Addis Ababa, Ethiopia, turut melaporkan angka polusi yang tinggi masing-masing 155 dan 121.

Indeks AQI sendiri merupakan metrik yang mengukur konsentrasi polutan di udara.

Perhitungannya melibatkan enam polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, serta ozon permukaan tanah.

Angka AQI keseluruhan ditentukan oleh polutan dengan tingkat risiko paling tinggi pada suatu waktu.

Skala AQI terbagi dalam rentang 0 hingga 500 dengan enam kategori tingkat kesehatan.

Kategori baik mencakup skor 0-50, sedangkan kategori sedang berada pada rentang 51-100.

Kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif berada pada rentang 101-150.

Tingkat yang lebih tinggi yakni tidak sehat (151-200), sangat tidak sehat (200-299), dan berbahaya (300-500).

Paparan udara dalam kategori sangat tidak sehat dapat merugikan kesehatan secara signifikan pada segmen populasi tertentu.

Adapun pada kategori berbahaya, polusi udara dapat menimbulkan risiko kesehatan yang bersifat serius bagi masyarakat luas.