Ecozone

Konflik Timur Tengah Bayangi Pasar Valas, NZD Menguat dan Yen Terpuruk

15
×

Konflik Timur Tengah Bayangi Pasar Valas, NZD Menguat dan Yen Terpuruk

Sebarkan artikel ini
2ececb3fc10eccc8cadb52912da45c7d.jpg
2ececb3fc10eccc8cadb52912da45c7d.jpg

Jakarta – Pergerakan mata uang global saat ini berada dalam fase fluktuatif akibat kombinasi sentimen pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat dan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan aset pada berbagai pasangan mata uang utama.

Berdasarkan data Trading Economics per Senin (1/6/2026), mata uang berbasis risiko seperti NZD/USD mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 1,63% ke level 0,59. Penguatan juga terjadi pada pasangan AUD/USD yang naik 0,15% ke 0,71 dan EUR/USD yang tumbuh 0,03% ke posisi 1,16. Sebaliknya, GBP/USD terkoreksi 0,37% ke level 1,34, sementara Yen Jepang (USD/JPY) masih tertekan dengan pelemahan 0,35% ke level 159,45.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menjelaskan bahwa penguatan mata uang berisiko didorong oleh ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang. Khusus untuk NZD, mata uang ini menjadi yang paling menonjol karena adanya ekspektasi sikap hawkish dari Bank Sentral Selandia Baru di tengah proyeksi kenaikan inflasi.

“Harapan meredanya konflik di Timur Tengah sempat memberikan angin segar bagi mata uang utama. Namun, pasar tetap waspada karena negosiasi antara AS dan Iran dinilai belum menemui titik final,” ujar Brahmantya.

Di sisi lain, posisi Yen Jepang masih terhambat oleh lebarnya selisih imbal hasil obligasi antara Jepang dan AS. Meskipun Bank of Japan memberikan sinyal normalisasi kebijakan, investor global masih cenderung memilih aset berbasis dolar yang dianggap memberikan imbal hasil lebih menarik.

Brahmantya menambahkan, strategi defensif tetap diperlukan oleh pelaku pasar. Dolar AS dan franc Swiss diproyeksikan akan menjadi aset pelarian utama apabila eskalasi di Timur Tengah kembali meningkat atau terjadi lonjakan harga energi yang memicu inflasi global.

Ke depan, pergerakan valuta asing akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS terkait inflasi dan ketenagakerjaan. Jika data menunjukkan pelemahan ekonomi, peluang pemangkasan suku bunga The Fed akan semakin lebar, yang pada gilirannya dapat menekan dolar AS. Sebaliknya, jika inflasi tetap tinggi, dolar AS berisiko kembali perkasa.

Untuk kuartal III-2026, Brahmantya memproyeksikan rentang perdagangan mata uang akan berada pada kisaran EUR/USD di 1,12 hingga 1,18, GBP/USD di level 1,37 hingga 1,39, serta USD/JPY di area 161 hingga 163. Pasar diperkirakan masih akan sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik global dalam jangka pendek.

34def38b6960318e05a7b283a694640f.jpg
Ecozone

Fenesia – Pada Minggu (31/5), harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (ANTM) tetap bertahan pada posisi Rp 2.799.000 per gram. Di sisi lain, harga buyback atau pembelian kembali oleh Logam Mulia juga stagnan di level Rp 2.609.000 per gram. Rincian Potensi Laba Rugi Investasi Emas Antam Bagaimana rincian potensi untung dan rugi investasi emas Antam jika dijual pada ? Baca Juga: Tabel Harga Emas Antam 31 Mei…

6fe8b5d0b737da14d28d131e1b65c7e4.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memberikan tanggapan atas rencana penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam (SDA) dan rencana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus ekspor. Corporate Secretary Division Head Aneka Tambang Wisnu Danandi Haryanto mengatakan, langkah tersebut sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat tata kelola perdagangan komoditas strategis nasional,…