Jakarta – Kiai Haji Noer Alie (1914-1992), yang dikenal sebagai “Singa Karawang-Bekasi”, telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Penetapan ini tertuang dalam Keppres Nomor 085/TK/2006 yang dikeluarkan pada 3 November 2006.
Noer Alie bukan hanya seorang ulama, tetapi juga pejuang kemerdekaan. Ia gigih melawan penjajahan Belanda.
Lahir dari pasangan petani, Maimunah binti Tarbin dan Anwar bin Layu. Ia merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara.
Keluarga Noer Alie dikenal hidup sederhana. Mereka menggarap lahan pertanian sendiri, berbeda dengan kebanyakan warga desa lainnya.
Pendidikan agama diperoleh dari sejumlah guru di Bekasi. Pada tahun 1934, ia menunaikan ibadah haji selama 6 tahun dan mendirikan Persatuan Pelajar Betawi di sana.
Di tanah suci, semangat kebangsaan Noer Alie semakin berkobar. Pertanyaan seorang pelajar asing tentang bagaimana Belanda yang kecil bisa menjajah Indonesia membuatnya tergerak.
Setelah kembali ke Indonesia, Noer Alie mendirikan pesantren di Ujungmalang, Bekasi.
Usai kemerdekaan, ia terpilih menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Cabang Babelan.
Pria yang dijuluki “Si Belut Putih” ini juga menjabat sebagai Ketua Lasykar Rakyat Bekasi dan Komandan Batalion III Hasbullah Bekasi.
Saat Agresi Militer I, Noer Alie aktif bergerilya di Jawa Barat. Ia mendirikan Markas Pusat Hisbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya.
Pasca pembantaian Rawa Gede, Noer Alie membangkitkan semangat rakyat. Sekitar 600 laskar bergabung dengan MPHS dan menyerang pos-pos Belanda.
Perjuangannya terus berlanjut hingga Perjanjian Roem-Royen.
Dalam Komisi Meja Bundar, Noer Alie turut membantu Mohammad Natsir. Setelah pengakuan kedaulatan, perjuangan MPHS pun berakhir.
Setelah perjuangan di medan tempur, Noer Alie melanjutkan perjuangannya di bidang pendidikan dan politik.
Di bidang pendidikan, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Islam, Madrasah Diniyah, dan Sekolah Rakyat Indonesia.
Di bidang politik, ia pernah menjabat sebagai ketua partai, anggota Dewan Konstituante, dan anggota Majelis Syuro Masyumi Pusat.
Ia juga menjadi Ketua Tim Perumus Konferensi Alim Ulama-Umaro se-Jawa Barat, yang menjadi cikal bakal MUI Jawa Barat.
Noer Alie wafat pada usia 78 tahun. Ia secara resmi diangkat menjadi pahlawan nasional pada tahun 2006.













