Ecozone

Kemenkes Gencarkan Kewaspadaan, Pantau Potensi Penyebaran Virus Nipah!

96
×

Kemenkes Gencarkan Kewaspadaan, Pantau Potensi Penyebaran Virus Nipah!

Sebarkan artikel ini
meski-nihil-kasus,-kemenkes-ingatkan-tetap-waspada-virus-nipah
meski nihil kasus, kemenkes ingatkan tetap waspada virus nipah

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus Nipah.

Hingga saat ini, belum ada kasus penularan pada manusia di Indonesia. Namun, risiko tetap dinilai ada.

Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan virus Nipah adalah penyakit zoonotik yang dibawa kelelawar buah.

Penularan bisa terjadi melalui hewan perantara seperti babi. Bisa juga melalui konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi, termasuk buah dan nira.

“Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus nipah pada manusia di Indonesia,” kata Murti, Minggu (1/2/2026).

“Namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa,” lanjutnya.

Kemenkes meminta dinas kesehatan di kabupaten/kota hingga provinsi aktif memantau peningkatan kasus penyakit dengan gejala yang berpotensi berkaitan dengan Nipah.

Gejala tersebut seperti meningitis, ensefalitis, Influenza Like Illness (ILI), Severe Acute Respiratory Infection (SARI), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan pneumonia.

Murti juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi nira atau air aren yang diambil langsung dari pohon tanpa pengolahan.

Menurutnya, kelelawar berpotensi mengontaminasi sadapan nira saat malam hari.

Penelitian di Indonesia menemukan bukti serologis serta deteksi virus Nipah pada kelelawar buah jenis Pteropus.

Temuan itu menunjukkan potensi sumber penularan memang ada di dalam negeri.

Penularan antarmanusia pernah dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan pasien.

Gejala klinis yang muncul bervariasi, mulai dari gangguan pernapasan ringan hingga berat, serta ensefalitis yang berisiko menyebabkan kematian.

“Penularan antar manusia juga dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita,” ujarnya.

“Manifestasi klinis bervariasi, mulai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan hingga berat, serta ensefalitis (peradangan) yang dapat berakibat kematian,” pungkasnya.