Showbiz

Joko Anwar Adaptasi Legenda Malin Kundang Jadi Film Layar Lebar

150
×

Joko Anwar Adaptasi Legenda Malin Kundang Jadi Film Layar Lebar

Sebarkan artikel ini
1a82c5d0521ed14b63f7da262b2ed046.jpg
1a82c5d0521ed14b63f7da262b2ed046.jpg

Jakarta – Joko Anwar kembali menghidupkan cerita rakyat ke layar lebar sebagai produser melalui Legenda Kelam Malin Kundang, sebuah reinterpretasi kisah klasik anak durhaka yang dikemas dalam nuansa thriller psikologis. Trailer perdana film ini resmi dirilis pada Rabu, 1 Oktober 2025, menandai langkah awal menuju penayangan serentak di bioskop pada 27 November mendatang.

Dalam konferensi pers, Joko Anwar mengungkapkan keresahannya atas kian jarangnya cerita rakyat disentuh. Baginya, film adalah medium paling relevan untuk menghidupkan kembali kisah-kisah lama agar tidak punah. “Indonesia kaya banget sama cerita rakyat. Harus dilestarikan. Kita ingin orang excited lagi sama cerita rakyat,” ujarnya di Jakarta, 1 Oktober 2025, saat perilisan trailer.

Bagi Joko, dongeng rakyat bukan sekadar kisah hiburan, melainkan refleksi budaya yang kaya nilai luhur. Ia berharap Legenda Kelam Malin Kundang dapat menjadi pintu bagi penonton muda untuk kembali akrab dengan warisan tersebut.

Ia menambahkan, kekuatan cerita rakyat terletak pada kemampuannya menyampaikan nilai-nilai moral dengan cara yang sederhana. Namun, seiring berkembangnya teknologi, tradisi mendongeng perlahan pudar. “Orang sekarang lebih belajar dari apa yang mereka konsumsi secara visual dan audio, bukan dari ceramah,” kata Joko, meyakini adaptasi ke layar lebar bisa menjadi jalan baru untuk melestarikan warisan budaya.

Di antara banyaknya legenda lokal, Malin Kundang dipilih setelah diskusi panjang tim kreatif Come and See Pictures. Popularitas kisah anak durhaka yang dikutuk menjadi batu dianggap lebih mudah menarik perhatian publik, sekaligus relevan dengan tema universal hubungan orang tua dan anak.

“Kita memutuskan Malin Kundang karena salah satu yang paling populer, dan aku sama Tia sangat senang banget cerita tentang hubungan orang tua dan anak dan konsekuensinya,” ungkap Joko, merujuk pada Tia Hasibuan yang juga berperan sebagai produser di film ini.

Legenda Kelam Malin Kundang menceritakan Alif (Rio Dewanto), seorang seniman lukis yang baru pulih dari kecelakaan yang membuatnya kehilangan sebagian ingatan. Alif hidup bersama istrinya, Nadine (Faradina Mufti), dan anak mereka, Emir. Kehidupan mereka terusik dengan rencana kedatangan ibu Alif (Vonny Anggraini), yang telah dilupakannya.

Mirip dengan legenda aslinya, Alif yang perantau menolak mengakui ibunya. Ia bahkan mencurigai perempuan itu memiliki niat tersembunyi. Konflik mengerucut pada upaya Alif mengungkap masa lalunya yang terlupakan, merencanakan sesuatu, serta menelusuri tempat-tempat tersembunyi di Jakarta dan memeriksa kode-kode dalam catatannya.

Joko Anwar menegaskan, film ini tidak dimaksudkan sebagai pengulangan cerita klasik. Legenda Kelam Malin Kundang hadir dengan dekontruksi baru, lebih menonjolkan sisi thriller psikologis ketimbang moralitas eksplisit.

“Anak-anak zaman sekarang tidak suka diceramahi. Jadi kita membuat Legenda Kelam Malin Kundang dengan nilai yang sama, tetapi cara kita bercerita kita deconstruct sehingga sesuai dengan sensitivitas penonton sekarang,” jelasnya. Pendekatan ini diharapkan menjangkau penonton muda yang tumbuh dalam kultur visual, agar pesan film tetap sampai tanpa menggurui.

Alih-alih menggarap sendiri, Joko mempercayakan kursi sutradara kepada dua generasi muda, Rafki Hihdayat dan Kevin Rahardjo atau akrab disapa Harjo. Keputusan ini diambil karena keduanya dianggap lebih dekat dengan bahasa sinema generasi utama film ini, Gen Z.

“Aku bahkan tidak ada di tenda mereka. Jadi memberikan kebebasan sepenuh-penuhnya mereka mau apa. Aku cuma memastikan in our corridor, karena kita ada visi Come and See,” kata Joko. Langkah ini sekaligus membuka ruang bagi sutradara baru untuk berkembang dan berkontribusi dalam lanskap perfilman nasional.

Meskipun aktif, Joko dikenal selektif dalam memilih proyek. Ia mengakui hanya mampu merampungkan satu film dalam setahun. Proses panjang, mulai dari riset, penulisan naskah, hingga pascaproduksi, membuatnya tidak ingin terburu-buru.

“Saya tidak bisa bikin film buru-buru. Minimal setahun sekali atau dua tahun sekali, supaya kualitasnya tetap terjaga,” ujarnya. Bagi Joko, menjaga ritme bukan hanya soal teknis produksi, melainkan juga bentuk tanggung jawab kepada penonton. “Film itu harus bisa bertahan lama di ingatan orang, bukan hanya laris seminggu terus hilang,” katanya.

Melalui Legenda Kelam Malin Kundang, Joko Anwar menunjukkan bahwa dongeng lama bisa dihidupkan kembali dengan wajah baru. Film ini digadang-gadang menjadi reinterpretasi yang relevan, menegangkan, dan siap menantang penonton untuk merenungkan kembali hubungan anak dan orang tua, sebuah tema klasik yang tak pernah kehilangan daya gugah. Dengan jadwal rilis 27 November 2025, film ini diharapkan menjadi salah satu film Indonesia paling dinantikan tahun ini.