Ecozone

Industri Fesyen Kriya Sumbang Rp120,13 Triliun terhadap PDB Nasional

32
×

Industri Fesyen Kriya Sumbang Rp120,13 Triliun terhadap PDB Nasional

Sebarkan artikel ini
2c33f965584374c1480d7799466a62a0.jpg
2c33f965584374c1480d7799466a62a0.jpg

Badung – Sektor industri fesyen dan kriya nasional mencatatkan performa gemilang dengan menyumbang nilai tambah ekonomi sebesar Rp 120,13 triliun pada triwulan I 2026. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 7,89 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, tren positif ini didorong oleh penguatan ekosistem industri kreatif di tanah air. Hal tersebut ia sampaikan saat meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kabupaten Badung, Bali, Jumat, 8 Mei 2026.

Selain kontribusi PDB, sektor ini juga mencatatkan lonjakan investasi yang signifikan. Total investasi pada triwulan I 2026 menembus angka Rp 14,21 triliun, yang terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 4,83 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp 9,38 triliun.

Daya saing produk lokal di pasar internasional pun tetap terjaga. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, nilai ekspor untuk industri fesyen pakaian jadi mencapai US$ 1,44 miliar, industri tekstil sebesar US$ 0,52 miliar, dan industri kriya menyumbang US$ 2,43 miliar.

Sektor IKM Sebagai Penggerak Utama

Peran Industri Kecil dan Menengah (IKM) menjadi pilar penting dalam penyerapan tenaga kerja dan pemerataan ekonomi. Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 menunjukkan terdapat 1,75 juta unit usaha IKM fesyen dan kriya yang berhasil menyerap sekitar 3,69 juta tenaga kerja.

Potensi ini didukung oleh sebaran sentra IKM yang masif di seluruh Indonesia. Berdasarkan data tahun 2025, terdapat 1.825 sentra IKM fesyen dan 3.496 sentra IKM kriya yang menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

Bali Sebagai Hub Kreatif Nasional

Pemilihan Bali sebagai lokasi BPIFK dinilai sangat strategis mengingat provinsi ini memiliki ekosistem industri kreatif yang matang dengan 25 sentra IKM fesyen dan 197 sentra IKM kriya.

BPIFK sendiri merupakan satuan kerja di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) yang dikembangkan dari program Bali Creative Industry Center (BCIC). Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu menjadi pusat inkubasi dan akselerasi bagi para pelaku industri fesyen serta kriya di tanah air untuk meningkatkan daya saing global.