TIBET – Ilmuwan China tengah menjalankan proyek kloning yak di laboratorium rahasia yang berada pada ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut.
Inisiatif ini bertujuan menciptakan populasi yak “elit” yang memiliki tingkat kesehatan dan produktivitas tinggi guna menopang ekonomi sekaligus melestarikan spesies yang terancam punah.
Pemerintah China mengucurkan dana puluhan juta dolar untuk riset ini sebagai upaya memulihkan populasi yak yang merosot lebih dari sepertiga dalam tiga dekade terakhir.
Data Wildlife Conservation Society mencatat, populasi yak global kini tersisa hanya 10 ribu hingga 20 ribu ekor akibat dampak perubahan iklim dan degradasi habitat.
Pemimpin ilmiah proyek, Fang Shengguo, menyatakan teknologi ini menjadi bukti transisi keberhasilan uji coba laboratorium menuju aplikasi skala besar yang stabil.
Tim peneliti menargetkan pembentukan kawanan yang terdiri dari lebih 100 ekor yak hasil kloning pada 2028 mendatang.
Teknis kloning dilakukan dengan mengambil sel somatik dari yak donor, mengekstrak nukleus, lalu memindahkannya ke sel telur yang telah dikosongkan nukleusnya.
Embrio hasil rekayasa tersebut kemudian ditanamkan ke dalam rahim induk pengganti untuk menjalani masa kehamilan hingga lahir.
Meski diklaim lebih efisien dibandingkan reproduksi alami yang lambat, proyek ini memicu perdebatan etis di kalangan komunitas ilmiah internasional.
Ahli bioetika dari Harvard Medical School, Lisa Moses, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas publik dalam setiap tahapan proyek kloning tersebut.
Hingga kini, informasi mengenai perkembangan yak hasil kloning masih sangat terbatas dan hanya bersumber dari media pemerintah China.
Ketidakjelasan juga menyelimuti nasib lebih dari 200 embrio yak liar yang dilaporkan telah diciptakan, mengingat belum ada pengumuman resmi mengenai kelahiran yak dari embrio tersebut.






