Ecozone

IHSG Tergelincir di Bawah 7.000, Saham EMAS dan ADRO Tetap Cuan

74
×

IHSG Tergelincir di Bawah 7.000, Saham EMAS dan ADRO Tetap Cuan

Sebarkan artikel ini
0cb4afc48e893340c6d0ef72808379ce.jpg
0cb4afc48e893340c6d0ef72808379ce.jpg

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja terlemah di Asia sepanjang empat bulan pertama tahun 2026. Tekanan jual yang masif dari investor asing dan sentimen global membuat indeks domestik terpuruk hingga mencapai level terendahnya tahun ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG bertengger di level 6.956,80 per Kamis (30/4/2026). Angka tersebut mencerminkan koreksi sebesar 19,55 persen secara tahun berjalan (year-to-date/YtD). Sebagai perbandingan, pelemahan bursa saham Indonesia jauh lebih dalam dibandingkan India yang terkoreksi 9,75 persen, Filipina 3,62 persen, serta Australia 1,45 persen.

Investor asing terpantau terus melepas asetnya di pasar modal Indonesia dengan catatan jual bersih mencapai Rp49,87 triliun. Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, hingga BREN menjadi penekan utama indeks. Sebaliknya, pergerakan saham komoditas seperti EMAS, MDKA, dan ADRO sempat menjadi penopang meski belum mampu mengangkat indeks ke zona hijau.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa koreksi tajam saat ini telah membawa rasio price-to-earnings (PE) IHSG ke kisaran 11–12 kali. Posisi tersebut berada di bawah rata-rata historis 14–15 kali, menandakan valuasi pasar yang mulai murah.

“Sebagian besar risiko, termasuk tekanan dari MSCI, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed, sudah cukup banyak terdiskon oleh pasar,” ujar Abida.

Menurutnya, bagi investor jangka menengah, level indeks saat ini menawarkan margin keamanan yang memadai untuk mulai melakukan akumulasi bertahap. Optimisme pasar ke depan juga diharapkan muncul dari reformasi pasar modal, seperti penerapan kriteria free float yang lebih ketat yang dapat menarik kembali minat institusi global.

Senada dengan hal tersebut, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyarankan investor agar mulai melirik saham dengan valuasi menarik yang memiliki profitabilitas solid. Beberapa nama seperti AADI, AKRA, BBCA, MEDC, AMRT, INDF, hingga ICBP dinilai memiliki fundamental yang cukup kuat di tengah tekanan pasar.

Wafi memproyeksikan potensi terjadinya relief rally jika pengumuman MSCI pada pertengahan Mei mendatang tidak memberikan sentimen negatif tambahan. Namun, ia mengingatkan agar investor tetap bersikap selektif dan melakukan pembelian secara bertahap di level support.

“Koreksi saat ini sudah masuk ke zona akumulasi yang menarik untuk jangka panjang. Namun, investor tetap harus memantau stabilitas nilai tukar rupiah dan arah kebijakan moneter ke depan sebagai katalis utama pemulihan pasar,” tutupnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi adalah tanggung jawab pembaca sepenuhnya.