Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan momentum penguatan signifikan pada perdagangan sesi pertama Rabu (10/6/2026). Sentimen positif yang menyelimuti pasar domestik mendorong indeks melesat lebih dari 2 persen, melanjutkan tren kenaikan setelah sebelumnya mencatatkan lonjakan sebesar 7,57 persen pada hari perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data RTI, IHSG terpantau menguat 2,34 persen atau setara dengan 134,58 poin. Dengan kenaikan tersebut, posisi indeks kini berada di level 5.881,23. Aktivitas pasar terpantau aktif dengan volume transaksi mencapai 31,7 miliar saham dan nilai transaksi keseluruhan menyentuh angka Rp 19,9 triliun.
Secara keseluruhan, sebanyak 543 saham mencatatkan penguatan. Sementara itu, 151 saham lainnya mengalami tekanan jual atau melemah, dan 118 saham sisanya bergerak stagnan.
Seluruh indeks sektoral kompak berada di zona hijau, memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan IHSG hari ini. Sektor IDX-Techno memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 4,30 persen, diikuti oleh sektor IDX-Finance yang menguat 3,34 persen, serta sektor IDX-Trans yang naik 3,18 persen.
Jajaran saham yang masuk dalam kategori top gainers pada indeks LQ45 meliputi PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang melonjak 12,14 persen ke level Rp 314. Selain itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menguat 8,73 persen ke posisi Rp 1.805, serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang naik 7,65 persen menjadi Rp 3.520.
Di sisi lain, beberapa saham LQ45 mengalami koreksi dan masuk dalam daftar top losers. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) turun 2,88 persen ke level Rp 202, disusul PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang melemah 2,37 persen ke level Rp 1.850, dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang terkoreksi 2,05 persen ke level Rp 1.195.
Founder Republik Investor sekaligus pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menyatakan bahwa peluang IHSG untuk terus menguat masih terbuka lebar. Hal ini didorong oleh keberhasilan indeks keluar dari tekanan ekstrem dan mampu menembus kembali level psikologis di angka 5.500.
Menurut Hendra, apabila kondisi sentimen global membaik serta nilai tukar rupiah semakin stabil, maka IHSG berpotensi melanjutkan tren positifnya. Pemerintah juga diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang mampu memacu kepercayaan investor agar indeks dapat bergerak menuju kisaran 6.000 hingga 6.300.
Hendra menekankan bahwa keberhasilan menembus level psikologis 5.500 merupakan sinyal yang cukup menggembirakan. Namun, ia mengingatkan agar pelaku pasar tetap waspada terhadap risiko ekonomi domestik yang masih membayangi.
Risiko tersebut salah satunya berasal dari tingkat suku bunga tinggi yang berpotensi menekan permintaan kredit. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memperlambat ekspansi dunia usaha sekaligus mengurangi aktivitas konsumsi masyarakat.
Selain itu, pelemahan daya beli masyarakat juga menjadi perhatian serius. Kenaikan biaya hidup yang belum diikuti oleh peningkatan pendapatan masyarakat dapat berdampak pada kinerja emiten yang sangat bergantung pada sektor konsumsi rumah tangga.
Pada sektor perbankan yang menjadi tulang punggung IHSG, investor diminta mencermati potensi kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) akibat lingkungan suku bunga tinggi. Meskipun demikian, Hendra melihat adanya peluang menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang karena banyak saham dengan fundamental kuat yang kini diperdagangkan pada valuasi relatif murah dibandingkan rata-rata historisnya.







