Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok signifikan pada penutupan perdagangan Jumat, melemah 204,9 poin atau 2,86 persen ke level 6.969,40. Pelemahan tajam ini dipicu oleh sentimen negatif dari wacana kenaikan royalti sektor pertambangan serta ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyoroti sektor pertambangan sebagai pemberat utama indeks setelah pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan skema royalti progresif baru. Kebijakan ini dinilai akan menekan profitabilitas emiten tambang demi optimalisasi penerimaan negara.
Berdasarkan usulan tersebut, royalti komoditas strategis mengalami kenaikan. Royalti emas diusulkan melonjak menjadi 14-20 persen, timah menjadi 5-20 persen, serta konsentrat tembaga yang naik menjadi 9-13 persen. Sementara itu, penyesuaian interval harga pada bijih nikel juga membuat potensi kenaikan tarif royalti terjadi lebih cepat.
Dampak kebijakan ini tercermin dari kinerja sektoral di BEI. Sektor bahan baku komoditas (IDXBASIC) terperosok paling dalam dengan koreksi 7,80 persen, disusul sektor transportasi sebesar 5,72 persen, dan sektor energi yang melemah 4,59 persen.
Selain sentimen domestik, Herditya menjelaskan bahwa pergerakan IHSG juga tertekan oleh sentimen eksternal. Ketidakpastian perundingan antara Amerika Serikat dan Iran serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu sentimen negatif di pasar modal global maupun regional Asia.
Secara teknikal, IHSG dinilai masih memiliki potensi untuk melanjutkan pelemahan. Data perdagangan menunjukkan tekanan jual yang masif, di mana sebanyak 607 saham ditutup melemah, sementara hanya 138 saham yang mampu menguat dan 214 saham stagnan.
Sepanjang perdagangan, total volume transaksi mencapai 54,39 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 2,8 juta kali transaksi. Nilai transaksi harian tercatat cukup tinggi mencapai Rp36,07 triliun, dengan kapitalisasi pasar BEI kini berada di posisi Rp12.405 triliun.







