Jakarta – Pemerintah memastikan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi pasca pengumuman pembentukan skema BUMN khusus ekspor bersifat sementara. Respons negatif pasar saat ini dinilai hanya dipicu oleh ketidakpastian investor terhadap mekanisme kebijakan baru tersebut.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, menyatakan bahwa pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati karena masih menanti kejelasan detail implementasi kebijakan pemerintah. Ia optimistis pasar akan kembali bergairah setelah investor memahami manfaat jangka panjang dari langkah strategis ini.
“Pasar sedang mencari kepastian. Jika investor sudah memahami dampak sebenarnya dari kebijakan ini, pergerakan indeks akan kembali positif,” ujar Pandu di Jakarta, Kamis (21/5).
Senada dengan Pandu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa penurunan indeks terjadi akibat kurangnya pemahaman pasar terhadap arah kebijakan ekspor komoditas strategis. Menurutnya, aksi jual yang dilakukan investor saat ini merupakan respons refleks terhadap ketidakpastian.
Purbaya meyakini, ketika manfaat kebijakan ini mulai dirasakan oleh kinerja perusahaan, tren harga saham akan kembali naik. Pemerintah sendiri berkomitmen untuk terus memantau respons pasar sebagai indikator penting dalam mengevaluasi efektivitas kebijakan ekonomi yang dijalankan.
Berdasarkan data perdagangan Kamis (21/5), IHSG ditutup melemah 223,56 poin atau terkoreksi 3,54 persen ke level 6.094. Sepanjang perdagangan, sebanyak 663 saham mencatatkan pelemahan, sementara hanya 88 saham yang mampu bertahan di zona hijau dengan total nilai transaksi mencapai Rp18,49 triliun.







