Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Senin (8/6/2026), merosot 3,59 persen ke level 5.390,65 hingga pukul 13.32 WIB. Pelemahan indeks utama ini dipicu oleh aksi jual masif investor asing yang menyasar saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, emiten pelat merah, serta sektor komoditas.
Aksi divestasi asing yang intensif menjadi sentimen utama yang menekan pergerakan pasar. Tercatat, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran utama aksi jual asing dengan nilai net sell mencapai Rp 328,67 miliar pada sesi siang. Tren pelepasan saham ini telah berlangsung sejak awal tahun, dengan akumulasi nilai jual bersih asing pada BBCA kini menembus angka Rp 32,77 triliun, naik dari posisi akhir pekan lalu yang berada di angka Rp 32,44 triliun.
Meski tekanan jual terus berlanjut, konsensus analis Bloomberg secara umum masih merekomendasikan beli untuk saham BBCA dengan target harga rata-rata di level Rp 8.826 per saham. Analis dari Yuanta Sekuritas, Yap Swie Cu, dalam riset terbarunya yang dirilis pada Senin (8/6/2026), tetap memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 9.200 per saham. Angka tersebut mencerminkan penyesuaian dari target awal tahun 2026 yang sempat dipatok pada level Rp 10.500 per saham, seiring dengan dinamika pasar yang berkembang.
Selain BBCA, sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya juga mencatatkan nilai jual bersih asing yang signifikan hingga sesi siang. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan net sell asing sebesar Rp 204,12 miliar. Tekanan serupa juga menimpa sektor komoditas dan infrastruktur telekomunikasi, di mana saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan net sell Rp 96,37 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 85,1 miliar, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp 41,54 miliar.
Di tengah aksi jual yang mendominasi, pelaku pasar juga tengah mencermati penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Keberlanjutan strategi manajemen ke depan menjadi perhatian utama investor yang menaruh minat pada prospek perusahaan telekomunikasi tersebut di tengah volatilitas pasar.
Berbanding terbalik dengan saham-saham yang dilepas, investor asing justru melakukan akumulasi beli pada sejumlah emiten lainnya. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan nilai beli bersih asing tertinggi pada sesi siang dengan total Rp 227,22 miliar. Selain TPIA, minat beli asing juga tertuju pada sektor energi dan infrastruktur pertambangan. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dibeli asing senilai Rp 76,33 miliar, diikuti oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan nilai Rp 25,34 miliar. Selain itu, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) juga masuk dalam daftar saham yang paling banyak dikoleksi asing, masing-masing dengan nilai beli bersih sebesar Rp 21,36 miliar dan Rp 16,41 miliar.
Kondisi pasar yang tertekan ini mengindikasikan adanya pergeseran alokasi portofolio investor asing di pasar modal Indonesia, di mana sektor perbankan dan komoditas utama menjadi sasaran utama koreksi harga. Pergerakan IHSG hingga penutupan sesi nantinya akan sangat dipengaruhi oleh konsistensi aksi jual asing di saham perbankan besar yang memiliki bobot signifikan terhadap indeks.







