New York – Harga minyak dunia mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan Selasa (16/6/2026), mencapai level terendah dalam tiga bulan terakhir. Pelemahan ini dipicu oleh munculnya harapan akan tercapainya kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, yang sekaligus berpotensi membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Minyak mentah Brent ditutup merosot sebesar US 4,21 atau 5,1 persen ke posisi US 78,96 per barel. Tren serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat yang turun US 4,70 atau 5,8 persen menjadi US 76,05 per barel. Penurunan ini memperpanjang tren negatif dari hari sebelumnya dan membawa harga ke titik terendah sejak awal Maret.
Sentimen pelaku pasar membaik seiring dengan terungkapnya rincian kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Perjanjian tersebut dikabarkan akan memperpanjang gencatan senjata yang sempat diumumkan pada April lalu selama 60 hari ke depan. Selain itu, kesepakatan tersebut mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi titik hambatan utama distribusi energi global.
Seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa kesepakatan tersebut memungkinkan Iran untuk kembali melakukan ekspor minyak setelah dokumen kerja sama ditandatangani. Prospek bertambahnya pasokan dari Iran membuat para pelaku pasar mengantisipasi berkurangnya risiko gangguan suplai energi secara signifikan.
Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, menyebut bahwa pasar minyak merespons dengan cepat karena adanya asumsi kuat bahwa Selat Hormuz akan segera beroperasi normal kembali. Sebelum konflik pecah, jalur tersebut menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga normalisasinya memiliki dampak langsung terhadap ekspektasi harga energi global.
Meskipun demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa optimisme pasar mungkin terlalu dini. Pemulihan aktivitas pelayaran dan ekspor energi diperkirakan membutuhkan waktu beberapa pekan. Selain itu, terdapat tantangan negosiasi yang kompleks terkait isu kompensasi finansial, sanksi ekonomi, hingga penyelesaian program nuklir Iran.
Meredanya kekhawatiran geopolitik mendorong sejumlah bank investasi global seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi untuk memangkas proyeksi harga minyak mereka. Tekanan fundamental juga muncul dari perlambatan ekonomi China. Aktivitas pengolahan minyak mentah di negara tersebut pada Mei tercatat turun 9,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi angka terendah dalam hampir empat tahun terakhir.
Sentimen negatif lainnya datang dari prospek suku bunga global yang tetap tinggi. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga di Amerika Serikat sepanjang 2026, sementara Bank of Japan baru saja menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Suku bunga yang tinggi berisiko menekan aktivitas ekonomi dan konsumsi energi global.
Pasar kini juga mencermati peluang perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Jika konflik tersebut mereda dan sanksi terhadap Rusia dicabut, pasokan minyak dari produsen besar tersebut berpotensi meningkat dan memberikan tekanan tambahan pada harga. Sementara itu, pelaku pasar sedang menanti data persediaan minyak mentah Amerika Serikat, dengan proyeksi penurunan stok sekitar 4,6 juta barel untuk pekan yang berakhir 12 Juni. Jika terealisasi, ini akan menjadi penurunan persediaan selama delapan pekan berturut-turut.







