Jakarta – Kinerja keuangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan menghadapi tantangan signifikan pada semester II-2026. Hal ini dipicu oleh potensi normalisasi harga emas global yang sebelumnya mencatatkan reli kenaikan cukup tinggi pada kuartal pertama tahun ini.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menjelaskan bahwa harga emas diperkirakan akan bergerak lebih landai dibandingkan periode Januari hingga Maret 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor makroekonomi global yang mulai menunjukkan pergeseran arah.
Menurut Harry, tantangan utama pada paruh kedua tahun 2026 adalah potensi penurunan harga emas di tengah tekanan inflasi yang masih berlangsung. Selain itu, adanya potensi suku bunga yang lebih tinggi serta meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor penekan harga komoditas tersebut.
Sebelumnya, ANTM mencatatkan performa keuangan yang impresif pada kuartal I-2026. Perusahaan membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 29,32 triliun, atau tumbuh 12,12 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Sejalan dengan peningkatan pendapatan tersebut, laba bersih emiten pelat merah ini melonjak signifikan sebesar 61,9 persen menjadi Rp 3,4 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di posisi Rp 2,1 triliun.
Ketergantungan terhadap komoditas emas masih sangat dominan bagi perseroan. Segmen emas tercatat memberikan kontribusi sebesar 81 persen terhadap total pendapatan ANTM pada kuartal I-2026, dengan nilai mencapai Rp 23,89 triliun.
Selain fluktuasi harga emas, pelaku pasar juga diminta mencermati pemulihan rantai pasok perusahaan. Fokus utama tertuju pada kinerja operasional tambang Grasberg yang sempat mengalami gangguan pada tahun lalu. Harry menekankan bahwa tingkat pemulihan pasokan dari tambang tersebut akan menjadi penentu krusial bagi kinerja operasional ANTM hingga akhir tahun.
Investor juga perlu memantau dinamika kebijakan moneter global. Harry menyebutkan bahwa arah kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat akan menjadi sentimen utama yang memengaruhi harga emas dunia.
Di sisi lain, kebijakan domestik turut membayangi prospek emiten pertambangan. Sejumlah wacana kebijakan pemerintah, mulai dari pembentukan lembaga ekspor terpusat, pungutan ekspor, kenaikan royalti, hingga penerapan windfall tax, menjadi sorotan pasar.
Dari berbagai wacana tersebut, kenaikan tarif royalti dinilai sebagai faktor yang paling berisiko menekan profitabilitas ANTM. Harry menjelaskan bahwa royalti merupakan sentimen dengan dampak paling besar dalam menggerus laba perseroan. Meski demikian, pemerintah hingga saat ini masih menunda implementasi tarif royalti baru tersebut.
Terlepas dari berbagai tantangan yang membayangi, prospek saham ANTM dinilai masih menarik. Harry tetap mempertahankan rekomendasi beli atau buy untuk saham ANTM dengan target harga di level Rp 4.600 per saham.







