Ecozone

Harga Emas Antam Turun, Selisih Harga Jual Kembali Capai Rp206.000

83
×

Harga Emas Antam Turun, Selisih Harga Jual Kembali Capai Rp206.000

Sebarkan artikel ini
df6c7a979f35ea6a6b4e237af2a5679f.jpg
df6c7a979f35ea6a6b4e237af2a5679f.jpg

Jakarta – Harga emas batangan bersertifikat yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mengalami koreksi pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Nilai logam mulia tersebut tercatat turun sebesar Rp 10.000 per gram, sehingga kini berada di posisi Rp 2.733.000 per gram dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 2.743.000 per gram.

Penurunan harga juga terjadi pada layanan jual kembali atau buyback yang disediakan oleh Logam Mulia. Harga buyback hari ini dipatok di angka Rp 2.527.000 per gram, turun Rp 13.000 per gram dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp 2.540.000 per gram. Dengan perubahan harga tersebut, selisih atau spread antara harga beli emas dengan harga buyback saat ini mencapai Rp 206.000 per gram.

Perbedaan harga yang cukup lebar ini menjadi variabel krusial yang harus dicermati oleh para investor. Antam memang menerapkan dua jenis harga dalam operasionalnya: harga beli yang berlaku saat nasabah membeli emas di gerai Logam Mulia, dan harga buyback yang merupakan nilai emas saat perusahaan membeli kembali logam mulia dari pemiliknya.

“Investor wajib memahami perbedaan antara harga beli dan harga buyback ini sebelum mengambil keputusan investasi. Jika tidak memperhitungkan selisih tersebut, perhitungan potensi keuntungan atau kerugian bisa menjadi tidak akurat,” ujar seorang pengamat pasar.

Sebagai ilustrasi, apabila seorang investor membeli emas pada pagi hari dengan harga Rp 2.733.000 per gram, kemudian terpaksa menjualnya kembali karena kebutuhan mendesak pada siang atau sore hari, emas tersebut hanya akan dihargai sebesar Rp 2.527.000 per gram. Kondisi ini menegaskan bahwa emas batangan lebih ideal untuk instrumen investasi jangka panjang. Dalam durasi investasi yang panjang, kenaikan harga emas diharapkan mampu melampaui selisih biaya transaksi tersebut sekaligus memberikan margin keuntungan bagi pemiliknya.

Data historis menunjukkan variasi hasil investasi tergantung pada durasi kepemilikan. Investor yang membeli emas pada 2 Juni 2026 di harga Rp 2.774.000, saat ini menghadapi potensi kerugian sebesar 8,90 persen jika harus melakukan buyback. Tekanan serupa dialami oleh investor yang membeli pada 9 Maret 2026 seharga Rp 3.039.000, dengan potensi kerugian mencapai 16,85 persen.

Sebaliknya, bagi mereka yang telah menyimpan emas dalam jangka waktu lebih lama, keuntungan yang diraih justru signifikan. Investor yang melakukan pembelian pada 9 September 2024 dengan harga Rp 1.398.000 per gram, saat ini mencatatkan potensi keuntungan sebesar 80,76 persen. Begitu pula bagi investor yang membeli pada 9 Desember 2024 seharga Rp 1.503.000, yang kini menikmati potensi laba sebesar 68,13 persen. Pola ini memperlihatkan bahwa ketahanan modal dalam investasi emas sangat bergantung pada stabilitas harga dalam jangka panjang serta momen pembelian yang tepat di pasar.