Magelang – Bangunan unik berbentuk burung raksasa yang dikenal sebagai Gereja Ayam di Bukit Rhema, Magelang, menjadi daya tarik wisatawan dari berbagai latar belakang agama dan negara. Meski disebut gereja, bangunan ini sebenarnya adalah rumah doa untuk semua bangsa, sebuah ruang perjumpaan lintas iman yang didirikan atas dasar mimpi dan gotong royong.
Kisah Gereja Ayam bermula pada tahun 1988, ketika Daniel Alamsyah, seorang pria asal Jakarta, mendapat ilham saat berdoa di Bukit Rhema. Ia kemudian memulai pembangunan rumah doa ini pada tahun 1992 secara gotong royong bersama warga sekitar.
Krisis moneter 1998 menghentikan pembangunan, dan bentuk bangunan yang belum rampung memicu kesalahpahaman. Masyarakat mengira bangunan itu adalah gereja berbentuk ayam karena bentuknya yang menyerupai jengger ayam.
Padahal, Daniel Alamsyah sejak awal menegaskan bahwa bangunan itu adalah rumah doa untuk semua bangsa. Bentuk burung yang dimaksud adalah burung merpati putih berkepala merah, simbol ketulusan, kasih, dan perdamaian.
Meski demikian, nama Gereja Ayam terlanjur melekat dan tetap digunakan sebagai identitas wisata hingga kini. “Branding-nya sudah kuat. Tapi maknanya tetap rumah doa lintas iman,” kata Aries, seorang pemandu wisata setempat.
Di dalam Gereja Ayam terdapat ruang-ruang doa untuk berbagai agama, termasuk ruang doa Muslim, Kristen, serta ruang doa Hindu dan Buddha yang masih dalam tahap penyempurnaan. Pengunjung juga bisa menuliskan doa dan harapan di dinding harapan.
Gereja Ayam kembali populer pada tahun 2014 setelah menjadi lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta 2. Puncaknya menawarkan pemandangan Candi Borobudur serta Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro jika cuaca cerah.
Kini, Gereja Ayam dikelola oleh Daniel Alamsyah (84), yang aktif dalam kegiatan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat. Bangunan ini kerap menjadi lokasi acara internasional dan pentas seni.
Jumlah pengunjung pada hari biasa berkisar 200-300 orang, namun bisa melonjak hingga ribuan saat liburan. Setiap tiket masuk sudah termasuk singkong goreng buatan warga sekitar, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi lokal.
Meskipun demikian, tahun ini jumlah pengunjung belum menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun lalu.
Gereja Ayam bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga simbol perjalanan spiritual, toleransi, dan gotong royong. Dari doa sunyi di tengah hutan, bangunan ini telah tumbuh menjadi ruang perjumpaan lintas iman, tempat orang datang untuk berdoa dan berharap.







