Berita

FAO Umumkan Harga Pangan Global Meroket Dipicu Konflik Timur Tengah

58
×

FAO Umumkan Harga Pangan Global Meroket Dipicu Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
fao:-harga-pangan-global-naik-2,4-persen-akibat-kenaikan-biaya-energi
fao: harga pangan global naik 2,4 persen akibat kenaikan biaya energi

Jakarta – Harga pangan global dilaporkan naik 2,4 persen pada Maret 2026. Kenaikan ini dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pemicunya?

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyebut lonjakan biaya energi akibat konflik di Timur Tengah sebagai penyebab utama.

Kenaikan harga terjadi di hampir semua komoditas.

Sereal, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula ikut terdampak.

Indeks Harga Pangan FAO naik 1,2 poin.

Atau setara satu persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Indeks Harga Sereal naik 1,5 persen menjadi 110,4 secara bulanan.

Angka ini meningkat 0,6 persen secara tahunan.

Indeks Harga Minyak Nabati rata-rata 183,1 poin pada Maret.

Naik 5,1 persen dari Februari.

Kenaikan tahunan mencapai 13,2 persen.

“Harga minyak sawit internasional tertinggi sejak pertengahan 2022,” kata FAO.

Bahkan, harganya lebih tinggi dari minyak kedelai.

Ini efek dari lonjakan harga minyak mentah.

Indeks Harga Daging rata-rata 127,7 poin.

Naik satu persen dari Februari.

Lebih tinggi delapan persen dari tahun lalu.

Indeks Harga Produk Susu naik 1,2 persen secara bulanan.

Menjadi 120,9 poin.

Namun, masih 18,7 persen lebih rendah dari Maret 2025.

Kenaikan harga juga dipicu harga minyak mentah yang tinggi.

Brasil, eksportir gula terbesar, diperkirakan alihkan tebu untuk produksi etanol.

“Tekanan tambahan pada harga gula juga berasal dari kekhawatiran konflik di Timur Tengah,” tambah FAO.

Konflik ini dikhawatirkan berdampak pada perdagangan gula.