Berita

Dugaan Pemukulan Warga Pembawa Bendera GAM oleh TNI Mencuat

147
×

Dugaan Pemukulan Warga Pembawa Bendera GAM oleh TNI Mencuat

Sebarkan artikel ini
6855513fe6fff354245890a4c90cd916.jpg
6855513fe6fff354245890a4c90cd916.jpg

Lhokseumawe – Aksi pembubaran konvoi pembawa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh Utara berujung ricuh. Personel TNI diduga melakukan kekerasan terhadap warga dalam kejadian yang berlangsung pada Kamis, 25 Desember 2025 itu.

Video yang memperlihatkan aksi kekerasan tersebut viral di media sosial. Dalam video itu, terlihat sejumlah anggota TNI berseragam loreng memukul peserta konvoi dengan tangan kosong, popor senjata, dan tendangan.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh menyayangkan tindakan represif tersebut. Ketua Kontras Aceh, Azharul Husna, mengatakan insiden itu terjadi saat konvoi melintas di depan kantor Bupati Aceh Utara.

“Lalu ada tindakan represif dari TNI,” kata Husna, Jumat, 26 Desember 2025.

Konvoi tersebut merupakan aksi kekecewaan para pemuda atas penanganan bencana oleh pemerintah pusat. Massa membawa atribut bendera bulan bintang yang identik dengan GAM.

Menanggapi kejadian ini, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Freddy Ardianzah menyesalkan narasi yang beredar dan menyudutkan institusi TNI. Ia menyebut informasi yang beredar tidak sesuai fakta di lapangan dan berpotensi menyesatkan publik.

TNI: Massa Konvoi Provokasi Aparat

Freddy menjelaskan, razia gabungan TNI-Polri dilakukan untuk mencegah konvoi eks kombatan GAM dan mengantisipasi pemasangan bendera bulan bintang.

Menurut Freddy, saat pembubaran terjadi gesekan antara aparat dan massa konvoi di Lhokseumawe. Ia mengklaim massa melakukan provokasi dengan mendorong dan memukul aparat.

“Walhasil, Kapolres Kota Lhokseumawe dan Dandim 0103 ikut jadi korban pemukulan oleh massa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Freddy mengatakan TNI, pemerintah daerah, dan aparat akan mengutamakan pendekatan dialog, persuasif, dan humanis untuk meredam potensi konflik dan menjaga stabilitas keamanan.

Freddy juga kembali menegaskan bahwa TNI menyayangkan beredarnya video yang dianggap mendiskreditkan institusi TNI dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.