Jakarta – Otoritas Israel kembali melakukan aksi provokatif dengan mengizinkan kelompok sayap kanan Yahudi melakukan demonstrasi di kawasan Masjid Al-Aqsa.
Demonstrasi yang digelar pada Kamis (7/12/2023) malam bertepatan dengan hari pertama Hanukkah, sebuah festival Yahudi yang berlangsung selama delapan hari.
Dalam demonstrasi tersebut, kelompok sayap kanan Yahudi menuntut diakhirinya status Islam di Masjid Al-Aqsa. Mereka juga menyerukan untuk membangun kembali kedaulatan penuh Yahudi di Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa.
Aksi demonstrasi ini mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari Kementerian Luar Negeri Qatar.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut bahwa demonstrasi tersebut merupakan provokasi terhadap perasaan umat Islam dan serangan terang-terangan terhadap hak rakyat Palestina.
Kementerian Luar Negeri Qatar juga memperingatkan Israel agar tidak mengubah status quo sejarah dan hukum di Yerusalem dan tempat-tempat sucinya.
“Langkah-langkah provokatif semacam itu akan segera meningkatkan ketegangan dan memperluas siklus kekerasan di kawasan,” kata Kementerian Luar Negeri Qatar.
Ketegangan di kawasan Yerusalem Timur telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini menyusul pertempuran antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza pada November 2023.
Pada 25 November 2023, Israel melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza sebagai tanggapan atas serangan roket dari Hamas. Serangan tersebut menewaskan puluhan warga Palestina, termasuk banyak anak-anak.
Hamas kemudian membalas serangan Israel dengan menembakkan roket ke wilayah Israel. Serangan tersebut menewaskan enam orang Israel, termasuk seorang anak.
Pertempuran antara Israel dan Hamas berakhir pada 2 Desember 2023 setelah kedua belah pihak sepakat untuk gencatan senjata.
Namun, ketegangan di kawasan Yerusalem Timur masih belum mereda. Demonstrasi kelompok sayap kanan Yahudi di Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu faktor yang meningkatkan ketegangan tersebut.







