Jakarta – Indonesia optimis menyambut pertumbuhan ekonomi 2026. Landasan pacu disiapkan untuk pertumbuhan maksimum.
Kunci utama adalah integrasi kebijakan fiskal, moneter, dan investasi. Tujuannya mencapai pertumbuhan progresif.
Danantara Indonesia hadir sebagai instrumen strategis. Lembaga ini konsolidasikan aset dan dana investasi nasional.
Tujuannya memperkuat struktur modal dalam negeri. Danantara berperan sebagai katalisator investasi jangka panjang.
Pemerintah andalkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diharapkan memacu penyerapan anggaran.
MBG diproyeksikan jadi pendorong konsumsi. Selain itu, menciptakan efek berganda di tingkat lokal.
Bank Indonesia (BI) pangkas suku bunga acuan 125 basis poin sepanjang 2025. Dampaknya diprediksi terasa di 2026.
Ekspansi kredit diharapkan pulihkan permintaan pinjaman modal kerja. Aktivitas bisnis diperkirakan kembali ke level puncak.
“Semua pendorong ini—fiskal, moneter, dan Danantara—yang dikombinasikan dengan momentum domestik, menunjukkan potensi pertumbuhan yang lebih cepat pada tahun 2026,” tulis Danantara.
Pernyataan itu tertuang dalam dokumen Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (16/1/2026).
Danantara akan berperan aktif melalui penyebaran modal awal. Optimalisasi bisnis BUMN juga jadi fokus melalui Danantara Asset Management (DAM).
Analisis Danantara catat minat investasi di Indonesia tetap kuat. Pinjaman investasi tak pernah surut, jadi pertanda baik.
Model ekonomi yang dipimpin investasi dianggap jalur aman. Tujuannya mempertahankan pertumbuhan PDB yang lebih tinggi.
Danantara berikan catatan kritis terkait penyempitan aktivitas investasi. Pertumbuhan investasi didominasi pemain domestik.
Investasi asing langsung (FDI) cenderung menurun. Hal ini akibat ketidakpastian global.
Ekspansi pinjaman terkonsentrasi pada industri terbatas. Sektor itu adalah pertambangan, logistik, dan kesehatan.
Diversifikasi yang lebih luas diperlukan agar pertumbuhan merata. Risiko makro seperti inflasi tetap harus diwaspadai.
Volatilitas nilai tukar hingga potensi kenaikan kredit macet (NPL) juga jadi perhatian. Penguatan produksi pangan dan industri domestik jadi kunci.
Tujuannya menjaga inflasi tetap terkendali. Hal ini di tengah ambisi pertumbuhan maksimum.
Danantara tekankan pentingnya memperluas basis penerimaan pajak. Peningkatan likuiditas domestik juga penting.
Tujuannya membiayai investasi masa depan. Stagnasi likuiditas domestik relatif terhadap PDB jadi tantangan.
Tanpa ekspansi likuiditas yang memadai, pembiayaan proyek sektor publik berisiko menghambat akses modal sektor swasta.
Strategi moneter dan investasi yang terkalibrasi presisi sangat dibutuhkan. Tujuannya mengangkat posisi tawar Indonesia.
Danantara yakini transformasi ekonomi akan sangat transformatif. Indonesia bukan hanya tumbuh lebih cepat pada 2026.
Namun juga memiliki fondasi ekonomi yang lebih sehat dan berdaya tahan.













