Fenesia – Bursa saham di kawasan Asia melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Reli ini dipicu oleh meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap potensi tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam waktu dekat.
Sentimen positif tersebut memberikan dampak domino ke berbagai sektor. Harga minyak mentah dunia terkoreksi ke level terendah dalam dua bulan terakhir, sementara nilai tukar dolar AS serta imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami pelemahan signifikan.
Presiden AS Donald Trump pada Kamis (11/6) menyampaikan sinyal optimis terkait proses negosiasi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa kesepakatan damai berpotensi ditandatangani paling cepat pada akhir pekan ini.
Trump menambahkan bahwa proses diplomasi telah mencapai tingkat tertinggi dalam kepemimpinan Iran. Selain itu, upaya tersebut diklaim telah memperoleh dukungan kuat dari sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Meskipun sebelumnya pasar sempat merespons skeptis terhadap pernyataan serupa dari Trump yang belum membuahkan hasil konkret, kali ini investor tampak lebih yakin. Optimisme ini tercermin dari pergerakan indeks saham di berbagai bursa utama Asia.
Indeks Nikkei Jepang mencatatkan kenaikan tajam sebesar 4,3 persen. Sementara itu, indeks KOSPI di Korea Selatan melesat lebih tinggi dengan kenaikan 8,3 persen. Bursa Australia yang memiliki ketergantungan pada sektor sumber daya alam juga menguat 1,8 persen.
Kepala Strategi Valuta Asing National Australia Bank, Ray Attrill, menilai bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai kali ini terlihat jauh lebih nyata dibandingkan periode sebelumnya. Ia menekankan bahwa jika sinyal positif terus muncul dari pihak Iran, probabilitas perdamaian akan meningkat secara signifikan.
Jika terealisasi, kesepakatan ini akan menjadi terobosan diplomatik terbesar untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan. Konflik tersebut selama ini menjadi faktor utama yang memicu volatilitas harga energi global.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,9 persen menjadi US$ 86,08 per barel. Sebelumnya, harga komoditas ini telah merosot 2,6 persen pada sesi perdagangan satu hari sebelumnya.
Kondisi serupa terjadi pada minyak Brent yang melemah 1,5 persen ke level US$ 89,08 per barel, setelah anjlok hampir 3 persen pada perdagangan sebelumnya. Penurunan harga minyak ini turut meredakan kekhawatiran inflasi global.
Meredanya tekanan inflasi membuat pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober kini turun menjadi 36 persen, dari sebelumnya berada di level 51 persen.
Penurunan ekspektasi suku bunga berdampak langsung pada imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor dua tahun bertahan di level 4,066 persen setelah turun enam basis poin. Sementara itu, yield Treasury tenor 10 tahun berada di posisi 4,4631 persen setelah terkoreksi hampir delapan basis poin.
Pelemahan dolar AS juga memberikan ruang bagi logam mulia untuk menguat. Harga emas spot naik 0,2 persen menjadi US$ 4.222 per ons troi, menyusul lonjakan 3,5 persen pada hari sebelumnya. Harga perak spot turut bertambah 0,3 persen menjadi US$ 67,52 per ons troi.
Selain isu geopolitik, investor juga memusatkan perhatian pada debut perdagangan saham perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk di bursa Nasdaq. IPO ini mencatatkan sejarah sebagai penawaran umum perdana terbesar sepanjang masa di AS dengan dana yang dihimpun mencapai US$ 75 miliar dan valuasi perusahaan sekitar US$ 1,77 triliun. Penguatan pasar saham AS pada Kamis (11/6) sebelumnya turut ditopang oleh optimisme investor menyambut momentum debut perusahaan tersebut.







