Jakarta – Penurunan permukaan air Danau Toba yang terus berlangsung dipicu oleh kombinasi faktor iklim dan aktivitas manusia.
Fenomena ini berdampak signifikan terhadap sektor perikanan, operasional pembangkit listrik, hingga pariwisata di kawasan Sumatra Utara.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hendri, mengungkapkan dinamika air danau tersebut merupakan persoalan yang kompleks.
Berdasarkan analisis data pengamatan periode 1957 hingga 2020, terdapat perubahan pola penyebab penurunan muka air sebelum dan sesudah 1984.
Pada tahun 1957-1984, muka air turun sekitar 22 milimeter per tahun yang didominasi oleh variabilitas iklim seperti fenomena El Nino.
Sejak 1984, laju penurunan melambat menjadi sekitar 2 milimeter per tahun, meski fluktuasi ekstrem tetap terjadi akibat kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole positif.
Peralihan pola tersebut bertepatan dengan beroperasinya Bendungan Sigura-gura dan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Hendri menegaskan bahwa penggunaan air untuk PLTA kini menjadi faktor yang lebih dominan dalam memengaruhi volume air danau dibandingkan aktivitas domestik masyarakat.
Selain operasional PLTA, perubahan tata guna lahan di kawasan tangkapan air turut memperburuk kondisi cadangan air.
Analisis citra satelit periode 1988-2020 menunjukkan luas hutan alami di kawasan tersebut berkurang hingga 29 persen.
Berkurangnya tutupan hutan alami menurunkan kemampuan kawasan dalam menyerap dan menyimpan air hujan.
Kondisi tersebut diperparah dengan pesatnya alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan pertanian.
Kepala PRIMA BRIN, Albertus Sulaiman, menyatakan riset ini mematahkan anggapan bahwa perubahan iklim menjadi satu-satunya penyebab utama.
Ia menyebut persoalannya kini melibatkan interaksi nyata antara dinamika cuaca dan intervensi manusia terhadap ekosistem.
Para peneliti menekankan pentingnya pengelolaan tata guna lahan dan pemanfaatan sumber daya air yang lebih bijaksana.
Hasil riset ini diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan kawasan Danau Toba yang berkelanjutan.






