Ecozone

BPH Migas Dorong Percepatan Distribusi CNG Melalui Jaringan Pipa

82
×

BPH Migas Dorong Percepatan Distribusi CNG Melalui Jaringan Pipa

Sebarkan artikel ini
ac42c9fcec43bd56edb8568ef35f09d9.jpg
ac42c9fcec43bd56edb8568ef35f09d9.jpg

Jakarta – Pemerintah berupaya menekan beban subsidi energi dengan mendorong penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dan pengembangan mini-Liquefied Natural Gas (LNG) sebagai alternatif pengganti LPG untuk kebutuhan rumah tangga. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang kini mencapai 81 persen dari total kebutuhan nasional.

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fathul Nugroho menyatakan, penggunaan CNG dan mini-LNG merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi yang lebih bersih, aman, dan efisien. Selain membantu menekan pengeluaran negara, konversi ini diharapkan dapat mempercepat capaian target 350 ribu sambungan gas rumah tangga pada 2029 mendatang.

Untuk mendukung percepatan tersebut, BPH Migas mendorong percepatan regulasi pembangunan stasiun induk CNG dan terminal mini-LNG. Skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) akan dioptimalkan guna memacu investasi infrastruktur gas, khususnya di wilayah Indonesia Timur yang memiliki tantangan geografis cukup berat.

Pemerintah sendiri telah menyusun skenario konversi yang ditargetkan mulai berjalan pada Agustus 2026. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), substitusi LPG dengan CNG diproyeksikan mampu menghemat anggaran subsidi hingga 30 persen, meskipun harga jual di tingkat konsumen tetap setara dengan LPG 3 kilogram.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa beban subsidi LPG saat ini mencapai Rp 80,3 triliun per tahun. Dengan beralih ke CNG, ketergantungan pada impor gas yang selama ini membebani fiskal negara diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

Secara teknis, terdapat perbedaan mendasar antara CNG dan LPG. CNG berasal dari gas alam yang dimurnikan dan dikompresi pada tekanan tinggi tanpa mengubah wujudnya, sementara LPG merupakan hasil olahan minyak bumi berupa propana dan butana yang dicairkan agar lebih mudah didistribusikan.

Meski selama ini CNG lebih banyak digunakan melalui jaringan pipa di sektor industri, pemerintah optimistis distribusi CNG untuk rumah tangga dapat dilakukan melalui tabung bertekanan tinggi. Laode menjamin faktor keamanan menjadi prioritas, dengan penggunaan teknologi tabung generasi keempat yang telah memiliki standar paten untuk memastikan distribusi yang aman bagi masyarakat.