Berita

BMKG Prediksi Fenomena Bediding Berlangsung hingga Puncak Musim Kemarau Agustus Mendatang

12
×

BMKG Prediksi Fenomena Bediding Berlangsung hingga Puncak Musim Kemarau Agustus Mendatang

Sebarkan artikel ini
pakar-ungkap-sampai-kapan-fenomena-bediding-bikin-menggigil-wilayah-ri
pakar ungkap sampai kapan fenomena bediding bikin menggigil wilayah ri

Jakarta – Sejumlah wilayah di Indonesia saat ini tengah dilanda fenomena bediding, yakni kondisi cuaca dingin yang muncul saat puncak musim kemarau. Fenomena ini menyebabkan penurunan suhu udara yang signifikan, terutama pada malam hingga pagi hari.

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar memprediksi suhu dingin di Bali akan berlangsung hingga Agustus mendatang. Kondisi ini merupakan siklus tahunan yang normal terjadi sejak awal musim kemarau.

“Jadi di suhu dingin ini, biasanya periodenya itu memang terjadi pada awal musim kemarau hingga puncaknya. Yaitu, dari Bulan Juni, Juli hingga Agustus. Puncak musim kemarau itu di Agustus, suhu dingin ini akan terjadi hingga bulan Agustus dan berakhir,” kata Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar, Brian Eko Permadi, Senin (1/6).

Brian memaparkan, suhu terendah yang tercatat di stasiun klimatologi Negara, Kabupaten Jembrana, mencapai 19 derajat Celsius.

“Paling dingin 19 derajat. Nah itu lokasi stasiunnya di wilayah perkotaan di Negara. Nah untuk di dataran tinggi di Bali, kan ada dataran tingginya untuk dataran tinggi ini kami tidak ada stasiun pencatatannya. Jadi kemungkinan di dataran tinggi lebih rendah lagi dari 19 derajat,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa suhu 19 derajat tersebut masih bisa turun atau menjadi lebih dingin, tergantung pada kondisi spesifik di wilayah masing-masing.

Fenomena serupa juga terjadi di Kota Malang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang memprediksi cuaca dingin kali ini akan terasa lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat kombinasi musim kemarau dan pengaruh El Nino. Masyarakat akan merasakan kontras cuaca yang tajam, yakni terik menyengat di siang hari dan suhu anjlok saat malam hingga pagi hari.

“Mengapa suhu anjlok drastis, karena minimnya tutupan awan, panas bumi siang hari terlepas bebas ke angkasa saat malam, dan suhu permukaan menjadi anjlok,” ujar Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno, Selasa (2/6).

Sementara itu, di Surabaya, BMKG Juanda menyatakan bahwa fenomena ini dipicu oleh minimnya tutupan awan yang membuat pelepasan panas bumi ke atmosfer berlangsung tanpa hambatan.

“Suhu udara terasa dingin terutama di wilayah Surabaya dan sekitarnya dikarenakan telah memasuki musim kemarau,” kata Prakirawan BMKG Juanda, Restina Wardhani, Selasa (2/6).

“Pada malam hari tutupan awan lebih sedikit yang mengakibatkan suhu terasa dingin. Pada siang hari suhu akan terasa panas,” tambahnya.

BMKG Juanda mencatat suhu terendah di Surabaya bisa menyentuh angka 26 derajat Celsius dan kondisi ini diprediksi masih bertahan dalam beberapa hari ke depan. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan serta menggunakan pelindung kulit dan tabir surya saat beraktivitas di siang hari.

“Masyarakat diimbau selalu menggunakan pelindung kulit dan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan dan menghindari paparan matahari langsung,” ujar dia.

Secara klimatologi, fenomena bediding disebabkan oleh Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Asia melewati Indonesia. Angin ini bersifat kering dan membawa sedikit uap air dari perairan Samudera Hindia yang bersuhu lebih rendah. Kondisi langit yang bersih dari awan kemudian menyebabkan panas bumi terlepas ke atmosfer luar, sehingga suhu di permukaan menjadi dingin.