Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan El Nino berpeluang besar bertahan hingga awal 2027. Kondisi itu dinilai dapat memperparah musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering sekaligus lebih panjang.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal 2027.
“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen,” kata Ardhasena dalam konferensi pers daring, Rabu (10/6).
Ia menjelaskan, dampak El Nino terhadap Indonesia diprediksi terasa selama musim kemarau hingga pertengahan Oktober.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memaparkan puncak kemarau di Tanah Air berlangsung dalam tiga fase, yakni Juli, Agustus, dan September 2026.
Agustus menjadi bulan dengan wilayah terbanyak yang mengalami puncak kemarau, yakni 369 Zona Musim (ZOM) atau 48,84 persen luas daratan Indonesia.
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, sebanyak 28,6 persen luas daratan sudah masuk musim kemarau lebih awal.
Pada Juni ini, 198 ZOM atau 31,60 persen diprediksi masuk musim kemarau. Sementara itu, 66 ZOM atau 7,28 persen baru akan memasuki kemarau mulai Juli.
Menghadapi potensi kekeringan imbas musim kemarau dan El Nino, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi lintas sektor. Pelaku sektor pangan diminta menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas yang lebih tahan kekeringan dengan siklus tanam lebih pendek.
Sektor sumber daya air didorong merevitalisasi waduk dan memperbaiki jaringan distribusi air.
Sektor energi diminta memastikan kapasitas air bendungan untuk operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Pemerintah daerah juga diimbau menyiapkan mekanisme respons cepat untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara yang berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
BMKG turut menekankan perlunya kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Untuk itu, BMKG berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan guna memperkuat pencegahan karhutla, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, OMC dilaksanakan secara situasional dengan menyesuaikan dinamika atmosfer yang sedang aktif dalam skala jam hingga 10 hari ke depan.
Istilah El Niño berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”.
El Niño awalnya digunakan untuk menandai kondisi arus laut hangat tahunan yang mengalir ke arah selatan di sepanjang pesisir Peru dan Ekuador saat menjelang natal.
Kondisi yang muncul berabad-abad lalu ini dinamai para nelayan Peru sebagai El Niño de Navidad, yang disamakan dengan nama Kristus yang baru lahir.
Menghangatnya perairan di wilayah Amerika Selatan itu ternyata berkaitan dengan anomali pemanasan lautan yang lebih luas di Samudera Pasifik bagian timur, bahkan dapat mencapai garis batas penanggalan internasional di Pasifik tengah.
Menurut BMKG, El Nino pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON) menyebabkan penurunan curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Pada periode Desember-Januari-Februari (DJF), El Nino umumnya berpengaruh pada menurunnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
El Nino kuat dalam sejarah tercatat pernah terjadi pada 1997. Saat itu, curah hujan tiga bulanan di Indonesia mengalami pengurangan yang sangat drastis.
Sejumlah wilayah yang terdampak antara lain Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Wilayah-wilayah tersebut dilaporkan mengalami curah hujan yang sangat rendah sepanjang tahun itu.







