Berita

BMKG: Jakarta Berawan Pagi, Hujan Guyur Wilayah Sore Hari

93
×

BMKG: Jakarta Berawan Pagi, Hujan Guyur Wilayah Sore Hari

Sebarkan artikel ini
30d67fe744b984588192194e7cd13fe4.jpg
30d67fe744b984588192194e7cd13fe4.jpg

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan akan mengguyur wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada sore hingga malam hari ini, Rabu, 8 Oktober 2025. Sebelumnya, kawasan ini diprediksi dominan berawan tebal sejak pagi hingga siang. Potensi hujan baru ada sejak pukul 16.00 WIB menuju pukul 22.00 WIB.

Berdasarkan prediksi cuaca yang dirilis BMKG pada Selasa malam, 7 Oktober, suhu udara di Jakarta akan berkisar antara 23-32 derajat Celsius. Sementara itu, Bekasi dan Depok diproyeksikan memiliki rentang suhu 20-35 derajat Celsius. Wilayah Bogor tercatat lebih landai dengan suhu sekitar 17-33 derajat Celsius.

Di Jawa Barat, kondisi cuaca berawan tebal juga akan mendominasi hingga siang hari. Setelah itu, hujan ringan berpotensi turun di Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, serta Kabupaten dan Kota Bekasi di atas pukul 13.00 WIB hingga malam.

Adapun di wilayah Banten, khususnya Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan, hujan ringan diprediksi mulai mengguyur sejak sore hari. Suhu di ketiga wilayah yang masih termasuk administrasi Jabodetabek ini berkisar 23-33 derajat Celsius.

Secara umum, BMKG memantau bahwa cuaca di Indonesia masih akan bersifat fluktuatif selama sepekan ke depan, dengan potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah. Dinamika atmosfer dipengaruhi oleh nilai Dipole Mode Index -124, yang memicu peningkatan pasokan uap air dan pembentukan awan hujan di Indonesia bagian barat.

Selain itu, beberapa wilayah di Indonesia juga dipengaruhi oleh Gelombang Rossby Ekuatorial di Kalimantan dan Sulawesi. Tercatat pula Gelombang Kelvin yang aktif di Laut Cina Selatan, Selat Makassar, sebagian Kalimantan dan Sulawesi, hingga Maluku dan Papua. Kondisi labilitas atmosfer juga akan relatif kuat.

Dalam peringatan dininya, BMKG menjelaskan, kelembapan udara yang basah menjadi pemicu utama terbentuknya awan konvektif di beberapa wilayah Indonesia.