Berita

BMKG Ingatkan Risiko Hidrometeorologi Meningkat, Masyarakat Harus Siaga

102
×

BMKG Ingatkan Risiko Hidrometeorologi Meningkat, Masyarakat Harus Siaga

Sebarkan artikel ini
bmkg:-siaga-banjir-dan-longsor-saat-puncak-musim-hujan
bmkg: siaga banjir dan longsor saat puncak musim hujan

Jakarta – Waspada bencana hidrometeorologi! Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir dan tanah longsor seiring datangnya puncak musim hujan.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan.

BMKG memprediksi puncak musim hujan terjadi mulai November hingga Februari.

Puncaknya diperkirakan terjadi Desember 2025 hingga Januari 2026.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan curah hujan ekstrem.

“Ini fasenya sudah siaga karena potensi meningkatnya curah hujan tinggi atau ekstrem dan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor semakin meningkat,” ujarnya, Sabtu (1/11).

Aktifnya angin muson dari Asia yang membawa massa udara lembab memperkuat kondisi ini.

Anomali suhu muka laut positif di perairan Indonesia juga meningkatkan potensi hujan.

“Suhu laut yang hangat ini meningkatkan penguapan dan memperkaya pasokan uap air di atmosfer sehingga memperkuat potensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” jelas Dwikorita.

BMKG juga memprediksi fenomena La Nina lemah akan terjadi hingga tahun depan.

Namun, dampaknya diperkirakan tidak signifikan terhadap curah hujan di Indonesia.

“Peningkatan itu bukan karena La Nina lemah ini, namun lebih disebabkan karena semakin hangatnya suhu muka air laut tadi,” imbuhnya.

Kewaspadaan terhadap siklon tropis di wilayah selatan Indonesia juga perlu ditingkatkan.

Siklon tropis berpotensi memengaruhi pola cuaca nasional dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem.

Wilayah pesisir selatan Indonesia, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Maluku bagian selatan, berpotensi mengalami angin kencang, hujan deras, dan badai besar akibat aktivitas siklon tropis.

“Fenomena ini berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan, serta memicu banjir besar, banjir bandang, dan juga longsor atau bencana hidrometeorologi,” pungkas Dwikorita.