Berita

BMKG: Cuaca Ekstrem Picu Longsor Cilacap, 13 November 2025

134
×

BMKG: Cuaca Ekstrem Picu Longsor Cilacap, 13 November 2025

Sebarkan artikel ini
82b9a98b552033046246b3fef2cbbd01.jpg
82b9a98b552033046246b3fef2cbbd01.jpg

Cilacap – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap serangkaian kondisi cuaca yang memicu tanah longsor di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Kamis (13/11/2025). Bencana ini terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan berintensitas tinggi selama beberapa hari, membuat tanah semakin jenuh air dan rentan terhadap pergerakan. BMKG memberikan penjelasan tersebut pada Sabtu (15/11/2025).

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa Pos Hujan Majenang mencatat curah hujan deras pada 10-11 November 2025, masing-masing sebesar 98,4 mm/hari dan 68 mm/hari. Setelahnya, hujan ringan masih mengguyur dan mempertahankan kondisi tanah tetap basah. “Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan,” ujar Guswanto.

BMKG memaparkan, hujan yang turun sejak awal pekan meningkatkan kadar air tanah secara signifikan. Kondisi tanah yang jenuh air ini menyebabkan lereng kehilangan stabilitasnya, sehingga pergerakan tanah mudah terjadi saat hujan kembali turun. Pemantauan menunjukkan curah hujan di Cilacap beberapa hari berturut-turut berada pada kategori sedang hingga tinggi, menjadi pemicu utama longsor.

Secara atmosfer, pola cuaca di Jawa Tengah mendukung pertumbuhan awan hujan. Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer lain, hingga belokan angin di sekitar Jawa memperkuat pembentukan awan konvektif. Selain itu, pusat pusaran angin terdeteksi di perairan barat Lampung dan selatan Bali, menambah suplai uap air ke Jawa dan meningkatkan peluang hujan intens.

Guswanto menjelaskan, kondisi atmosfer tersebut menghasilkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang. Senada, Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan kelembapan udara mencapai 70-100 persen di tiga lapisan atmosfer (850 mb, 700 mb, dan 500 mb). Udara yang basah di berbagai ketinggian ini memicu pertumbuhan awan hujan dalam jumlah besar, meningkatkan potensi hujan lebat dan risiko longsor.

BMKG telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk wilayah Cilacap, termasuk Kecamatan Majenang. Peringatan tersebut juga mengindikasikan bahwa hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19-22 November 2025.

Mengingat kondisi tanah yang sudah jenuh air, BMKG mengingatkan potensi longsor susulan masih mungkin terjadi bila hujan lebat kembali turun dalam periode peringatan dini. Oleh karena itu, mitigasi dan pemantauan harian sangat diperlukan, khususnya di desa-desa yang terdampak.

Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Bagus Pramujo, memastikan BMKG terus memberikan dukungan lapangan. Dukungan tersebut berupa data prakiraan cuaca harian dan pemantauan langsung. BMKG berkomitmen memperbarui prakiraan cuaca harian secara terus-menerus dan mengirimkan informasi cuaca serta peringatan dini melalui kanal resmi agar dapat segera ditindaklanjuti oleh BNPB, BPBD, aparat, dan masyarakat.