Jakarta – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada tahun 2025 akan tetap sehat. Defisit transaksi berjalan diperkirakan berada dalam kisaran 0,5% hingga 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Proyeksi ini muncul meskipun defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal II 2025 sempat melebar.
Pada kuartal II 2025, CAD tercatat melebar menjadi US$3,0 miliar atau 0,8% terhadap PDB. Angka ini lebih tinggi dibandingkan defisit pada kuartal I 2025 yang hanya US$0,2 miliar atau 0,1% dari PDB. Sebelumnya, CAD menunjukkan tren penyusutan sejak kuartal IV 2024.
Meskipun demikian, BI menegaskan akan terus mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI. Bank sentral berkomitmen memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi erat dengan pemerintah serta otoritas terkait, guna memperkuat ketahanan sektor eksternal.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Junanto Herdiawan, menjelaskan bahwa kinerja NPI 2025 diperkirakan tetap sehat. Hal ini ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial serta defisit transaksi berjalan yang rendah, yakni dalam kisaran defisit 0,5% hingga 1,3% dari PDB.
Proyeksi NPI yang sehat ini didukung oleh kinerja surplus transaksi modal dan finansial, berkat aliran masuk modal asing. Hal ini sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik yang tetap baik dan imbal hasil investasi yang menarik.
Secara terperinci, neraca perdagangan nonmigas pada kuartal II 2025 tetap membukukan surplus sebesar US$14,8 miliar. Meskipun lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar US$17,7 miliar, surplus ini sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas.
Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas menyusut menjadi US$4,2 miliar pada kuartal II 2025, sejalan dengan harga minyak global yang lebih rendah. Pada kuartal I 2025, defisit neraca perdagangan migas tercatat sebesar US$4,7 miliar.
Defisit neraca pendapatan primer meningkat pada kuartal II 2025 menjadi US$9,8 miliar dari sebelumnya US$9,3 miliar pada kuartal I 2025. Kenaikan defisit ini seiring dengan kenaikan pembayaran dividen dan bunga/kupon sesuai pola triwulanan.
Sementara itu, neraca pendapatan sekunder mencatatkan surplus US$1,7 miliar pada kuartal II 2025, lebih tinggi dari kuartal I 2025 sebesar US$1,6 miliar. Junanto menjelaskan, surplus neraca pendapatan sekunder meningkat dipengaruhi kenaikan hibah dan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.
BI juga mencatat bahwa kinerja transaksi modal dan finansial tetap terkendali di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Investasi langsung membukukan peningkatan surplus pada kuartal II 2025, dengan arus masuk neto sebesar US$2,6 miliar. Angka ini sedikit naik dari US$2,5 miliar pada kuartal I 2025, mencerminkan terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.
Namun, investasi portofolio mencatat defisit hingga US$8 miliar pada kuartal II 2025, berbalik arah dari surplus pada kuartal I 2025 sebesar US$1,5 miliar. Defisit ini terutama didorong oleh aliran keluar modal asing dalam bentuk surat utang domestik. Sementara itu, investasi lainnya mencatat surplus dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri sektor swasta.
Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial pada triwulan II 2025 mencatat defisit sebesar US$5,2 miliar. Secara keseluruhan, NPI pada kuartal II 2025 tercatat defisit sebesar US$6,7 miliar.
Meskipun demikian, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 tetap tinggi, mencapai US$152,6 miliar. Posisi cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.







