Aceh – Banjir dan longsor yang melanda Aceh tiga pekan lalu menyisakan duka mendalam. Ratusan ribu warga masih terisolir dan hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Data terbaru mencatat, 449 orang meninggal dunia dan 31 lainnya hilang akibat bencana ini. Sebanyak 174.220 rumah warga dilaporkan rusak.
Kondisi darurat diperparah dengan terhambatnya bantuan logistik, belum tersedianya hunian sementara, serta lumpuhnya listrik dan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah.
Di dataran tinggi Gayo, termasuk Bener Meriah, Aceh Tengah, dan sebagian Gayo Lues, akses darat menuju pedalaman masih terputus. Distribusi logistik hanya bisa dilakukan melalui jalur udara.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh Tengah, Mustafa Kamal, mengungkapkan 54.480 jiwa di 80 desa dalam 7 kecamatan masih terisolir.
“Desa terisolir 80 kampung tersebar di 7 kecamatan jumlah orang terisolir 54.480 jiwa,” kata Mustafa Kamal.
Warga terpaksa berjalan kaki dan menyeberangi sungai menggunakan kabel sling untuk mencapai wilayah tersebut.
Kondisi serupa juga terjadi di Bener Meriah. Data dari posko penanggulangan bencana setempat mencatat 36.045 warga di 59 desa dalam 6 kecamatan masih terisolir.
Warga harus berjalan kaki untuk mencari kebutuhan pokok. Listrik dan jaringan telekomunikasi hanya menyala di Kecamatan Bukit, Wih Pesam, dan Bandar, itu pun masih bergilir.
“Untuk Kecamatan Bukit, Wih Pesam dan Bandar listrik dan jaringan sudah menyala tapi ada titik tertentu masih padam. Kecamatan lainnya masih padam,” ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Bener Meriah, Ilham Abdi.
Di Aceh Tamiang, hampir seluruh akses jalan menuju desa terputus. Warga hanya bisa berjalan kaki untuk mencapai desa-desa tersebut.
“Iya (akses darat terputus dan warga masih terisolir). Bisa jalan darat tapi gak bisa dengan kendaraan (akses ke desa-desa),” kata Juru Bicara Pemkab Aceh Tamiang, Agusliayana Devita.
Kondisi serupa juga terjadi di Aceh Utara, Aceh Timur, Pidie Jaya, Bireuen, dan Lhokseumawe. Sejumlah desa di wilayah tersebut masih sulit dijangkau melalui jalur darat.
Direktur Eksekutif Katahati Institute, Raihal Fajri, menyoroti penanganan bencana yang belum responsif terhadap kelompok rentan.
“Kami juga menilai penanganan bencana belum responsif terhadap kelompok rentan. Hingga hari ke-22, belum ada data terbuka mengenai kondisi ibu hamil, lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas di lokasi bencana, padahal regulasi BNPB mewajibkan perlindungan khusus bagi kelompok tersebut,” kata Raihal.







