Berita

ADB Pangkas Proyeksi, Airlangga Optimistis Stimulus Pemerintah Pacu Ekonomi

117
×

ADB Pangkas Proyeksi, Airlangga Optimistis Stimulus Pemerintah Pacu Ekonomi

Sebarkan artikel ini
adb-pangkas-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2025-jadi-4,9-persen,-ini-respons-airlangga
adb pangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi indonesia 2025 jadi 4,9 persen, ini respons airlangga

Jakarta – Asian Development Bank (ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 menjadi 4,9 persen. Sebelumnya, ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5 persen.

Pemangkasan proyeksi ini terjadi di tengah ketidakpastian perdagangan global.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tetap optimistis. Ia meyakini stimulus pemerintah akan menjaga pertumbuhan ekonomi.

“OECD dan lembaga internasional lain justru melakukan upgrade,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (30/9/2025).

Pemerintah, kata Airlangga, telah menggelontorkan berbagai program stimulus. Salah satunya adalah kucuran dana Rp200 triliun ke bank-bank Himbara pada pertengahan September 2025.

“Dengan berbagai program pemerintah, termasuk mendorong Rp200 triliun ke perbankan, sektor diharapkan bergerak,” tegasnya.

Airlangga menambahkan, pemerintah juga menyiapkan paket stimulus menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) untuk menopang konsumsi masyarakat.

Paket tersebut meliputi diskon tiket pesawat, PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), diskon jalan tol, kapal, kereta api, hingga harbolnas.

ADB sebelumnya merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menjadi 4,9 persen dari proyeksi April 2025 sebesar 5 persen. Untuk 2026, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5 persen, turun dari proyeksi sebelumnya 5,1 persen.

ADB menilai Asia Tenggara mengalami penurunan prakiraan pertumbuhan terbesar akibat lemahnya permintaan global dan naiknya ketidakpastian perdagangan. Pertumbuhan subkawasan diperkirakan hanya 4,3 persen pada 2025, turun 0,4 poin dibandingkan perkiraan April 2025.

“Tarif Amerika Serikat masih berada pada tingkat yang tinggi secara historis dan ketidakpastian perdagangan global juga sangat tinggi,” kata Kepala Ekonom ADB, Albert Park.