Aceh – Banjir bandang dan longsor dahsyat melanda Aceh, menghancurkan sejumlah kampung dan membuat Gubernur Muzakir Manaf tak kuasa menahan air mata. Bencana ini disebut lebih parah dari tsunami 2004.
Mualem, sapaan akrabnya, menyebut beberapa kampung seperti Sawang, Jambo Aye di Aceh Utara, hingga Peusangan, Bireuen, lenyap disapu banjir dan longsor.
“Ada beberapa kampung hilang entah kemana,” ungkap Mualem dengan nada pilu, seperti dikutip dari tayangan YouTube.
Gubernur Aceh itu bahkan menyebut bencana ini sebagai “tsunami kedua” bagi Aceh.
“Aceh sekarang tsunami kedua,” tegasnya.
Mualem berharap bantuan dari berbagai pihak untuk meringankan beban para korban.
“Inilah tugas kita untuk melayani mereka yang terdampak,” imbuhnya.
Menurut data, 18 dari 23 kabupaten/kota di Aceh terdampak bencana. Penanganan harus dilakukan cepat dan terukur.
Prioritas utama saat ini adalah membuka akses darat untuk menyalurkan logistik ke desa-desa terisolasi.
Aceh Utara menjadi wilayah yang paling parah terdampak, dengan banyak warga masih terkurung di rumah mereka.
Bantuan logistik dan perlengkapan pengungsian mulai menjangkau daerah terisolir seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tamiang sejak Senin (1/12).
Namun, skala bantuan masih terbatas karena akses darat terputus dan hanya bisa ditempuh melalui udara.







