BeritaPolitik

Golkar Mendesak LPDP: Prioritaskan Keadilan, Bukan Hanya Orang Kaya!

74
×

Golkar Mendesak LPDP: Prioritaskan Keadilan, Bukan Hanya Orang Kaya!

Sebarkan artikel ini
sekjen-golkar:-lpdp-jangan-hanya-untuk-orang-kaya,-harus-ada-afirmasi-yang-jelas
sekjen golkar: lpdp jangan hanya untuk orang kaya, harus ada afirmasi yang jelas

Jakarta – Sekjen Partai Golkar, M. Sarmuji, menyoroti polemik WNI penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas.

Dwi dikecam publik usai unggahan video anaknya yang menjadi WNA Inggris viral.

Sarmuji menilai masalah ini bukan sekadar pilihan pribadi.

Namun, terkait desain kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial.

Dwi merupakan alumni S2 Delft University of Technology, Belanda (2017).

Suaminya, Arya Iwantoro, juga meraih beasiswa LPDP untuk S2 dan S3 di Utrecht University (2017-2022).

Sarmuji mengaku sudah mengingatkan soal ini sejak 2022.

“Saya sendiri pernah mengingatkan soal ini dalam rapat kerja dengan Kementerian Keuangan pada awal tahun 2022,” katanya, Minggu (22/2/2026).

Ia khawatir LPDP hanya dinikmati kelompok kaya jika tak ada penekanan dan afirmasi.

Menurutnya, syarat LPDP lebih mudah dipenuhi kelompok sosial-ekonomi kuat.

“Kalau tidak ada afirmasi, yang akan menikmati hanya orang kaya,” ujarnya.

Sebab, syarat TOEFL dan lainnya dinilai berat.

Sarmuji menekankan pentingnya potensi akademik untuk beasiswa negara.

Kemampuan bahasa, menurutnya, bisa ditingkatkan.

“Tapi kalau dari awal yang bisa memenuhi hanya mereka yang memang sejak kecil sudah difasilitasi dengan sekolah dan kursus terbaik, ya akhirnya yang menikmati itu-itu saja,” katanya.

Latar belakang sosial-ekonomi memengaruhi kemampuan memenuhi standar akademik dan bahasa asing.

Anak keluarga mampu punya akses sekolah dan kursus bahasa Inggris yang memadai.

“Orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah yang bagus. Orang kaya yang bisa mengursuskan anaknya bahasa Inggris di tempat yang bagus,” ujarnya.

“Kalau orang miskin tidak bisa. Mau gimana orang sekolahnya sambil jualan pentol. Tidak bisa. Sulit sekali kalau sekolahnya, kuliahnya, sambil jualan pentol, bahkan enggak sempat dia belajar secara intensif,” pungkasnya.