Jawa Tengah – Pondok Pesantren Darusy Syahadah di Boyolali, Jawa Tengah, menjadi pusat dialog penting. Diskusi ini menyoroti dinamika Jamaah Islamiyah (JI).
Fokus utama adalah transformasi organisasi dan penguatan perspektif keislaman yang moderat serta kebangsaan.
Akademisi, tokoh agama, dan aparat penegak hukum turut hadir.
Sesi pertama membahas buku “JI: The Untold Story”. Tujuannya adalah memahami JI secara utuh dan objektif.
Ustaz Para mengulas sejarah JI, cita-cita awal, dan transformasinya. Ia menyatakan bahwa JI telah meninggalkan kekerasan.
Kombes Pol. Choirul Anam menyambut baik pembubaran JI. Ini menjadi momentum bagi anggota untuk kembali ke NKRI.
Ustaz Aslam menjelaskan bahwa bidang pendidikan dan dakwah JI tidak terlibat kekerasan. Namun, persepsi publik sering menyamaratakan.
Diskusi juga menyinggung stigma terhadap eks anggota JI pasca pembubaran.
Sesi kedua membahas Wasathiyah. Narasumbernya adalah Ustaz Para, Dr. Rifki Muhammad Fatkhi, dan Dr. Najih Arromadloni.
Dr. Rifki menjelaskan hadis tentang jihad, hijrah, dan cinta tanah air. Ia menekankan bahwa pemahaman Islam tidak mungkin memusuhi negeri sendiri.
Ustaz Para menegaskan bahwa pembubaran JI melalui proses panjang dan pertimbangan syar’i.
Dr. Najih menjelaskan bahwa istilah jihad perlu dipahami dengan perangkat keilmuan lengkap dan tidak untuk membenarkan kekerasan.
Diskusi juga membahas demokrasi, penegakan syariat, dan dinamika penafsiran ayat.
Kegiatan ini diharapkan memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat dan selaras dengan nilai kebangsaan.
Kegiatan ini adalah bagian dari roadmap pembubaran JI. Fokusnya adalah reintegrasi dan intervensi pesantren eks afiliasi JI.







