Berita

Trump Ngotot Kuasai Greenland, Usai Serang Venezuela, Apa Alasannya?

166
×

Trump Ngotot Kuasai Greenland, Usai Serang Venezuela, Apa Alasannya?

Sebarkan artikel ini
dfacefad3021dd1dccc041f7a6b3c856.jpg
dfacefad3021dd1dccc041f7a6b3c856.jpg

Fenesia – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan kontroversial terkait Greenland. Kali ini, Trump berulang kali menyatakan perlunya Amerika Serikat mengambil alih pulau terbesar di dunia itu demi kepentingan keamanan nasional.

Pernyataan keras Trump ini langsung menuai penolakan dari pemerintah Greenland dan Denmark, yang selama ini menaungi wilayah semi-otonom tersebut.

Isu Greenland kembali diangkat Trump tak lama setelah operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Greenland sendiri telah berada di bawah kekuasaan Denmark selama hampir 300 tahun, meskipun secara geografis merupakan bagian dari Amerika Utara.

Lantas, apa yang membuat Trump begitu bernafsu untuk menguasai Greenland?

Menurut laporan BBC, Trump berdalih bahwa posisi Greenland sangat strategis dan kini dipenuhi aktivitas Rusia dan China. Ia menegaskan, kepentingan keamanan nasional menjadi alasan utama, bukan semata-mata soal ekonomi atau sumber daya alam.

“Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional. Letaknya sangat strategis,” ujar Trump kepada wartawan.

Kepentingan militer AS di Greenland sebenarnya bukan barang baru. Sejak Perang Dunia II, setelah Denmark diduduki Nazi Jerman, AS mengambil alih pengamanan Greenland dan membangun pangkalan militer.

Hingga kini, Amerika Serikat masih mengoperasikan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik di Greenland. Fasilitas tersebut memegang peran strategis dalam sistem pertahanan rudal AS.

“Jika Rusia mengirim rudal ke arah AS, rute terpendek untuk senjata nuklir adalah melalui Kutub Utara dan Greenland,” kata Marc Jacobsen, profesor madya di Royal Danish Defence College.

Sementara itu, Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, menyebut gagasan aneksasi AS sebagai khayalan belaka.

“Cukup sudah. Ini adalah fantasi,” tegas Nielsen.

Sikap senada juga disampaikan Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, yang menegaskan bahwa AS tidak memiliki hak untuk mencaplok wilayah mana pun dari Kerajaan Denmark.

Trump sendiri bukan pertama kali ini menyuarakan ketertarikan terhadap Greenland. Pada tahun 2019, ia sempat menawarkan pembelian pulau tersebut, tetapi ditolak mentah-mentah.