Jakarta – Sejumlah wilayah di Jabodetabek kini dilanda fenomena cuaca ekstrem dengan suhu udara yang sangat kontras antara malam hingga pagi hari dibandingkan siang hari.
Perbedaan suhu yang drastis ini memicu keluhan warga di media sosial yang merasa tidak nyaman dengan perubahan cuaca mendadak tersebut.
Warga Bekasi, Saiful, mengungkapkan bahwa suhu udara terasa sangat dingin saat malam hingga menjelang subuh.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berbalik drastis menjadi panas menyengat ketika memasuki siang hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu di Jakarta dan sekitarnya pada Jumat (10/7) malam berkisar antara 25 hingga 28 derajat Celsius.
BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh pergerakan Angin Monsun Australia yang bersifat kering dan minim uap air.
Angin tersebut bertiup melewati wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut relatif rendah.
Masyarakat setempat mengenal fenomena ini sebagai Bediding, sebuah kondisi yang lazim terjadi selama puncak musim kemarau.
Secara fisis, minimnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas matahari yang terserap permukaan bumi terlepas kembali ke atmosfer secara cepat pada malam hari.
Ketiadaan uap air di udara membuat panas permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menurun drastis.
Sebaliknya, pada siang hari, ketiadaan awan menyebabkan radiasi matahari mencapai permukaan bumi tanpa hambatan signifikan.
Hal tersebut mengakibatkan suhu terasa jauh lebih panas dibandingkan hari-hari biasanya.
BMKG menegaskan bahwa fenomena ini merupakan proses atmosfer normal yang kerap terjadi di wilayah khatulistiwa hingga bagian utara Indonesia.







