Jakarta – Serangan Amerika Serikat ke Venezuela dinilai belum mengguncang harga minyak mentah dunia.
Pasar global masih stabil meski tensi geopolitik meningkat sejak awal 2026.
Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development (CFESD) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov mengungkapkan hal ini.
Abra mencatat harga minyak mentah dunia cenderung menurun dalam setahun terakhir.
Harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran 57-61 dolar AS per barel.
Kondisi ini didorong surplus pasokan dan stabilitas global yang relatif terjaga.
“Kalau kita melihat tren pergerakan harga komoditas minyak mentah dunia dalam satu tahun terakhir, kecenderungannya memang terus menurun. Bahkan untuk Brent dan WTI harganya di kisaran 57 sampai 61 dolar per barel,” kata Abra, Selasa (6/1/2026).
Menurut Abra, serangan AS ke Venezuela memicu perhatian pasar.
Respons komunitas internasional menjadi faktor penentu arah harga ke depan.
OPEC+ sendiri sejak awal berencana memangkas produksi untuk menaikkan harga minyak.
Namun, hal ini dihadapkan pada potensi tambahan pasokan dari Venezuela.
“Ketika Presiden Trump mengeluarkan pernyataan perusahaan-perusahaan minyak AS akan terlibat mengeksploitasi sumber daya alam minyak di Venezuela, ini menciptakan ekspektasi akan ada tambahan pasokan minyak mentah di pasar global,” ujar Abra.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 19,3 persen dari total cadangan global.
Potensi tambahan produksi ini dipandang sebagai penyeimbang kebijakan pemangkasan OPEC+, sehingga harga cenderung stabil atau bahkan turun.







