Berita

Kemenhut Repatriasi Empat Orangutan dari Thailand ke Habitat Asli

111
×

Kemenhut Repatriasi Empat Orangutan dari Thailand ke Habitat Asli

Sebarkan artikel ini
f056b55ac4b03d5252b9f60dd3c78d91.jpg
f056b55ac4b03d5252b9f60dd3c78d91.jpg

Jakarta – Kabar gembira datang dari dunia konservasi. Empat individu orangutan, korban perdagangan satwa liar ilegal, berhasil dipulangkan dari Thailand ke Indonesia. Satwa dilindungi ini tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa (23/12/2025), pukul 17.30 WIB.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok menjadi garda terdepan dalam upaya repatriasi ini. Keberhasilan ini menjadi angin segar di tengah maraknya kejahatan terhadap satwa liar lintas negara.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengungkapkan keprihatinannya atas kejahatan perdagangan satwa liar yang terus terjadi. Ia menekankan pentingnya sinergi antar lembaga untuk memperketat pengawasan perbatasan.

“Saya terpukul dan merasa sedih karena kejahatan jual beli satwa liar masih terus terjadi,” ujar Raja Juli dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/12/2025).

Lebih lanjut, Raja Juli menyoroti kondisi hutan Sumatera yang menjadi habitat alami orangutan. Tekanan lingkungan yang masih terjadi menjadi perhatian serius Kemenhut.

Keempat orangutan ini merupakan hasil sitaan otoritas Thailand dari kasus perdagangan ilegal satwa liar yang digagalkan pada Januari dan Mei 2025. Saat disita, usia mereka diperkirakan masih di bawah satu bulan.

Setelah melalui proses identifikasi fisik dan uji DNA, diketahui bahwa empat orangutan tersebut terdiri dari tiga individu orangutan sumatera (Pongo abelii), yaitu dua jantan dan satu betina, serta satu individu betina orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Saat ini, keempat orangutan tersebut dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi Sumatran Rescue Alliance (SRA) di Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Mereka akan menjalani rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Pemerintah Indonesia berharap, dengan upaya ini, populasi orangutan di Sumatera dapat terus terjaga dan kejahatan perdagangan satwa liar dapat diberantas. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha seperti Garuda Indonesia Airlines, sangat penting dalam upaya konservasi ini.