Berita

Ancaman Kesehatan Pascabanjir Meningkat, Dinkes Padang Perkuat Edukasi ke Warga

97
×

Ancaman Kesehatan Pascabanjir Meningkat, Dinkes Padang Perkuat Edukasi ke Warga

Sebarkan artikel ini
1764931889792142 1
Foto : Internet

FENESIA – Dinas Kesehatan Kota Padang terus memantau kondisi kesehatan warga di berbagai posko bencana. Selain itu, petugas juga mengawasi tren penyakit yang mulai muncul pascabanjir bandang.

Dari rangkaian kunjungan tersebut, Dinkes mencatat peningkatan kasus pada korban bencana. Kadiskes Padang, dr Srikurnia Yati, menyebut ISPA sebagai penyakit dengan tren tertinggi saat ini.

“Setiap hari kami turun ke lapangan. Tren penyakit tertinggi yakni Infeksi Saluran Pernafasan Akut,” jelasnya pada Kamis (4/12/2025).

Kondisi cuaca ekstrem dan turunnya daya tahan tubuh memicu kenaikan kasus ISPA. Situasi ini terutama dialami warga yang terdampak banjir.

“Selain itu, debu dari lumpur yang mengering juga meningkatkan risiko ISPA,” ujarnya.

Agar penyebaran ISPA dapat ditekan, Dinkes terus memberikan edukasi kesehatan kepada warga. Pada setiap kunjungan, petugas mengajak masyarakat mengonsumsi lebih banyak air putih.

Kadiskes menyebut warga pengungsian sudah memperoleh air mineral. Namun konsumsi air tersebut masih rendah.

Air putih sangat dibutuhkan tubuh. Dua liter air diperlukan setiap hari, meskipun keterbatasan tetap terjadi di lokasi pengungsian.

Karena itu, warga diimbau menjaga pola hidup seimbang, memperbanyak istirahat, serta mengonsumsi buah dan sayur. “Kelelahan memicu berbagai penyakit. Selain itu gunakan masker karena debu sangat banyak,” ungkapnya.

Dinkes juga membagikan masker kepada warga terdampak. Kadiskes mengimbau masyarakat tetap menggunakannya sepanjang berada di area bencana.

Selain ISPA, penyakit kulit turut mengalami peningkatan di Kota Padang. Sebelum banjir, warga menggunakan air bersih PDAM. Namun suplai air PDAM terhenti setelah bencana terjadi.

“Warga akhirnya memakai air sumur yang keruh. Kondisi itu memicu penyakit kulit,” kata Yati.

Dinkes Padang mengimbau seluruh warga menyaring air sebelum digunakan. Pihaknya juga mengedukasi masyarakat agar terhindar dari penyakit kulit.

“Mudah-mudahan air PDAM segera kembali mengaliri rumah warga,” harap Kadiskes.

Hingga saat ini, lebih dari 14.000 warga masih mengungsi di berbagai lokasi. Daerah paling terdampak meliputi Tabiang Banda Gadang dan Gurun Laweh, dengan rumah terendam lumpur hampir dua meter.

Selain itu, Batu Busuak, Guo, dan Lubuk Minturun juga termasuk wilayah terparah akibat banjir bandang tersebut.