Ecozone

Airlangga Prediksi Penurunan Ekonomi Daerah Bencana Akibat Dampak Kerusakan

232
×

Airlangga Prediksi Penurunan Ekonomi Daerah Bencana Akibat Dampak Kerusakan

Sebarkan artikel ini
6d4e55c012c96ffdf83c02e202d5520d.jpg
6d4e55c012c96ffdf83c02e202d5520d.jpg

Jakarta – Banjir yang melanda wilayah Sumatera diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi mencapai Rp 68,67 triliun. Angka fantastis ini memicu kekhawatiran pemerintah, dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan penurunan pertumbuhan ekonomi di provinsi terdampak, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pernyataan ini disampaikan Airlangga di Jakarta pada Kamis, 4 Desember 2025, sebagai respons terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat yang maksimal 5,6 persen.

Airlangga menegaskan, pemerintah akan terus berupaya memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah lain. Hal ini bertujuan untuk mencapai target pertumbuhan nasional di tengah pelemahan ekonomi daerah terdampak bencana.

Politikus Partai Golkar itu memastikan, sejumlah relaksasi keuangan akan diberikan kepada masyarakat di wilayah terdampak banjir Sumatera. Salah satunya adalah restrukturisasi dan penghapusan kredit macet bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Regulasinya sudah ada dan itu bisa berlaku otomatis,” ujar Airlangga.

Selain itu, pemerintah juga akan mengimplementasikan program perbaikan infrastruktur dan rehabilitasi wilayah yang rusak akibat banjir.

Kerugian ekonomi sebesar Rp 68,67 triliun ini merupakan estimasi dari Center of Economics and Law Studies (Celios). Lembaga tersebut menyebut bencana banjir di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, berdampak signifikan terhadap ekonomi regional dan nasional.

Kerugian tersebut mencakup kerusakan rumah penduduk, rusaknya infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan, serta hilangnya produksi dari lahan pertanian yang terdampak. Secara nasional, dampak penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 68,67 triliun, atau setara dengan 0,29 persen.

Ekonom Celios, Nailul Huda, menjelaskan bahwa dampak langsung terjadi ketika sektor-sektor tertentu secara langsung terimbas bencana. Contohnya adalah lahan padi yang tersapu banjir atau penurunan aktivitas perdagangan.

Sementara itu, dampak tidak langsung muncul akibat terganggunya arus barang konsumsi dan industri. Huda mencontohkan, pasokan barang dari Jawa Barat ke Sumatera Barat dapat terhambat karena akses jalan yang tertutup. Begitu pula jika pasokan cabai dari Sumatera Barat berkurang ke Riau, hal ini bisa memicu kenaikan harga di Riau.

“Semuanya saling berkaitan. Maka bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mempunyai efek terhadap perekonomian nasional,” ucap Huda. Pernyataan ini dikutip dari publikasi Celios berjudul Dampak Kerugian Ekonomi Bencana Banjir Sumatera yang dirilis pada 3 Desember 2025.