Jakarta – Gerakan Nurani Bangsa (GNB) mendesak pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional untuk banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Desakan ini muncul akibat dampak masif yang ditimbulkan, termasuk ratusan korban jiwa dan ribuan warga terdampak.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 2 Desember 2025, bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menyebabkan 744 orang meninggal dunia, 551 hilang, dan 2.600 luka-luka.
Selain itu, 3,3 juta orang dilaporkan terdampak dan 1,1 juta lainnya terpaksa mengungsi.
Tokoh GNB, Lukman Hakim Saifuddin, menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban dan simpatinya kepada seluruh masyarakat yang terdampak bencana, Kamis (4/12/2025).
GNB menilai, penanganan bencana harus dilakukan secara komprehensif dan terpusat. Mobilisasi sumber daya nasional dinilai krusial mengingat keterbatasan yang dihadapi pemerintah daerah.
Selain fokus pada penanganan darurat, GNB juga menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan lingkungan hidup. Mereka mendesak pemerintah untuk memperketat aturan terkait kelestarian lingkungan.
“Bencana ini adalah cerminan kebodohan, ketidakpedulian, dan keserakahan manusia terhadap alam,” tegas Lukman.
GNB mengapresiasi respon cepat dari berbagai pihak dan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersolidaritas membantu meringankan beban para korban.
GNB sendiri beranggotakan sejumlah tokoh nasional terkemuka, termasuk Ibu Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dan KH. Ahmad Mustofa Bisri.







