Jonggol – Muhammad Ikhlas Thamrin, penemu bahan bakar nabati Bobibos, mengungkapkan bahwa produksi 3.000 liter bahan bakar tersebut membutuhkan sekitar 9.000 ton jerami, setara dengan hasil panen dari satu hektare sawah padi. Bahan bakar ini diklaim memiliki nilai oktan (RON) 98 dan ramah lingkungan karena terbuat dari limbah pertanian.
CEO PT Inti Sinergi Formula itu menjelaskan, limbah batang kering dari tanaman padi diekstraksi menggunakan serum dengan mesin rancangannya sendiri. Prosesnya melibatkan lima tahap untuk mengubah bahan baku menjadi Bobibos, bahan bakar ramah lingkungan.
Bobibos, akronim dari ‘Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!’, rencananya akan diproduksi secara massal tahun depan. Penemuan ini mendapat sambutan positif dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang bahkan menawarkan pasokan limbah jerami dari 1.200 hektare sawah di Lembur Pakuan sebagai bahan baku.
Ikhlas optimistis Bobibos dapat diproduksi di seluruh Indonesia, mengingat luasnya lahan persawahan. Ia berharap, dengan produksi lokal di berbagai daerah, harga jual bahan bakar merah (solar) dan putih (bensin) dapat diseragamkan dan dijual di bawah Rp 10 ribu per liter.
Mulyadi, pemilik PT Inti Sinergi Formula, mengklaim bahwa dua negara di Asia dan Eropa, serta Brasil, telah menyatakan minat terhadap Bobibos. Saat ini, pihaknya tengah menjalin komunikasi dengan BUMN, khususnya PT Pertamina, untuk berkolaborasi menjadikan Bobibos sebagai kebanggaan dan wujud kedaulatan energi Indonesia.
Riset dan pengembangan Bobibos sepenuhnya dilakukan di dalam negeri. Setelah diluncurkan pada 2 November lalu, sekitar 3 ribu liter Bobibos telah diproduksi untuk uji coba skala kecil di area Jonggol, sambil menunggu izin produksi massal dari pemerintah.







