Life

Pola Asuh Orang Tua Pengaruhi Prestasi Akademik Anak di Sekolah

87
×

Pola Asuh Orang Tua Pengaruhi Prestasi Akademik Anak di Sekolah

Sebarkan artikel ini
3e851639c04e012f25d27e1cb8bdf7ab.jpg
3e851639c04e012f25d27e1cb8bdf7ab.jpg

Jakarta – Ketakutan akan kegagalan sering kali menjadi penghalang terbesar bagi anak ketika menghadapi kompetisi, termasuk olimpiade sains, matematika, atau bahasa. Rasa cemas ini bisa diubah menjadi motivasi positif jika diarahkan dengan cara yang tepat, terutama karena cara orang tua memandang kegagalan berpengaruh langsung terhadap ketahanan akademik anak.

Menurut hasil riset yang diterbitkan oleh Frontiers in Psychology (2025), anak-anak yang didukung untuk melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar terbukti memiliki resiliensi dan kemampuan adaptasi yang lebih tinggi. Ini berarti saat anak dibiasakan menghadapi tantangan tanpa takut gagal, mereka justru belajar untuk bangkit, berstrategi ulang, dan memperkuat daya juang mereka.

Salah satu langkah efektif untuk mengurangi ketakutan anak terhadap kegagalan adalah menciptakan lingkungan belajar yang suportif. Anak perlu tahu bahwa hasil bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, melainkan proses belajar, usaha yang konsisten, dan keberanian mencoba hal baru adalah nilai utama dalam sebuah kompetisi.

Selain itu, penting juga untuk membangun rasa percaya diri anak sejak dini. Kepercayaan diri dapat muncul ketika anak merasa didukung tanpa tekanan berlebihan. Orang tua bisa membantu dengan memberikan pujian pada proses, bukan hanya hasil akhir, misalnya mengapresiasi usaha anak saat belajar, bukan hanya saat menang.

Pendekatan lain yang bisa diterapkan adalah membantu anak memahami bahwa setiap kompetisi adalah ajang belajar, bukan semata adu kemampuan. Dengan begitu, anak bisa menikmati proses berkompetisi tanpa terbebani oleh ketakutan gagal. Jika anak melihat kompetisi sebagai kesempatan untuk berkembang, rasa takut akan berangsur hilang.

Dalam konteks ini, berbagai platform kompetisi edukatif kini hadir untuk membantu anak-anak mengembangkan potensi akademiknya tanpa tekanan. Salah satunya adalah Indonesian Olympiad Battle (IOB), sebuah kompetisi internasional berbasis daring untuk siswa dari tingkat TK hingga kelas 12 di bidang Matematika.

CEO & Founder IOB, Ijar Sunardi, menjelaskan bahwa tujuan utama platform ini bukan semata mencari pemenang, melainkan menumbuhkan semangat belajar. “Kami ingin anak-anak belajar menikmati proses berpikir kritis dan berani mencoba, bukan sekadar fokus pada hasil akhir,” ujar Ijar Sunardi pada awal November 2025.

Dalam pelaksanaannya, IOB berkomitmen menyediakan wadah yang inklusif dan mudah diakses oleh siswa di berbagai negara. “Kami berupaya membangun lingkungan kompetitif yang adil dan mendidik, di mana setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang,” tambahnya.

Ijar menambahkan visinya adalah untuk menjadi kompetisi akademik global yang memberdayakan generasi muda. “Kami percaya bahwa semangat olimpiade bukan hanya tentang menang, tapi juga tentang menumbuhkan rasa ingin tahu dan cinta terhadap ilmu pengetahuan,” kata Ijar. IOB berharap anak-anak dapat belajar untuk tidak takut gagal, melainkan menjadikan setiap pengalaman sebagai langkah menuju keberhasilan berikutnya.