Berita

Polri Usut Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Korban Diduga Dibully

103
×

Polri Usut Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Korban Diduga Dibully

Sebarkan artikel ini
27625c59ac69126db755e6e4df45ea5a.jpg
27625c59ac69126db755e6e4df45ea5a.jpg

Jakarta – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) masih mendalami dugaan motif perundungan atau bullying di balik ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta Utara. Seorang pelajar berusia 17 tahun telah diamankan dan kini menjadi terduga pelaku insiden tersebut.

Kepala Polri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menyampaikan bahwa pihaknya terus mengumpulkan informasi guna menyatukan data yang akurat. Listyo membenarkan bahwa pelaku adalah pelajar dari lingkungan sekolah, meski belum merinci apakah yang bersangkutan merupakan siswa SMAN 72.

“Untuk motif memang saat ini sedang kami dalami dari berbagai informasi,” kata Listyo di Istana Merdeka, Jakarta, pada 7 November 2025.

Pelaku saat ini telah berada dalam penahanan Polri dan sedang menjalani operasi. Polisi terus mendalami identitas, lingkungan, serta tempat tinggal pelaku untuk mengungkap lebih jauh kasus ini.

Insiden ledakan tersebut terjadi di masjid SMAN 72, Kelapa Gading Barat, menjelang pelaksanaan salat Jumat. Awalnya, pengelola kantin sekolah, Jhoni, memperkirakan sekitar 10 hingga 15 siswa terdampak ledakan tersebut pada Jumat, 7 November 2025.

Dalam perkembangan selanjutnya, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Asep Edi Suheri menyatakan total 54 korban dilarikan ke Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sebagian besar korban mengalami luka ringan hingga sedang.

“Data yang awal yang baru kami terima tadi ya, kalau kami jumlahkan kurang lebih sekitar 54 orang,” ujar Suheri di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat, 7 November 2025.

Terpisah, Presiden Prabowo Subianto merespons insiden ini dengan meminta agar penanganan korban menjadi prioritas utama. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan, Kepala Negara juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Jika ada hal-hal yang dirasa mencurigakan, atau ada hal-hal yang mungkin berpotensi menjadi hal-hal yang tidak baik, kita harus semakin peduli baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah,” tutur Prasetyo di Istana Merdeka, Jakarta, 7 November 2025.