Berita

Sri Mulyani Pacu Pertumbuhan 2026, Targetkan Investasi Rp7.500 T!

64
×

Sri Mulyani Pacu Pertumbuhan 2026, Targetkan Investasi Rp7.500 T!

Sebarkan artikel ini
sri-mulyani:-butuh-investasi-rp7.500-t-capai-target-pertumbuhan-2026
sri mulyani: butuh investasi rp7.500 t capai target pertumbuhan 2026

Jakarta – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang ambisius pada tahun 2026, namun realisasi investasi pada kuartal I 2025 menunjukkan adanya tantangan besar yang perlu diatasi.

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 5,2 persen hingga 5,8 persen, Indonesia membutuhkan investasi minimal Rp7.500 triliun. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-21 Masa Persidangan IV 2024-2025 di Jakarta Pusat, Selasa (1/7).

Sri Mulyani menekankan bahwa pertumbuhan investasi harus ditingkatkan menjadi 5,9 persen year on year (yoy). Ia juga menyinggung peran Danantara dalam mencapai target investasi tersebut. “Ini berarti Indonesia membutuhkan investasi baru pada 2026 untuk mencapai target pertumbuhan yang tinggi dengan investasi senilai minimal Rp7.500 triliun,” ujarnya.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa kontribusi investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) adalah 30 persen. Jika digabungkan dengan konsumsi rumah tangga, keduanya berkontribusi 85 persen kepada perekonomian Indonesia.

Kehadiran Danantara diharapkan dapat mengakselerasi investasi di Indonesia, sesuai dengan fungsinya sebagai sovereign wealth fund (SWF) dan alat penarik investasi domestik maupun luar negeri. “Investasi Danantara yang difokuskan pada sektor strategis dan bernilai tambah tinggi diharapkan mampu berkontribusi signifikan terhadap target investasi pemerintah,” tegasnya.

Sri Mulyani menambahkan bahwa target pertumbuhan yang tinggi di tengah ketidakpastian global membutuhkan upaya lebih keras dari pemerintah untuk mendorong sektor swasta sebagai motor pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah, BUMN, Danantara, dan swasta. “Target pertumbuhan yang tinggi, di mana lingkungan global masih penuh dengan ketidakpastian, tentu membutuhkan upaya lebih keras bagi pemerintah untuk mendorong sektor swasta sebagai motor pertumbuhan ekonomi. Bahu-membahu antara pemerintah, BUMN, Danantara, dan swasta, menjadi keharusan,” sambungnya.

Namun, Sri Mulyani mengakui bahwa capaian investasi pada kuartal I 2025 masih rendah, hanya tumbuh 2,12 persen secara tahunan. Ia menyalahkan ketegangan geopolitik dan perang militer sebagai penyebab utama dari capaian tersebut.

“Eskalasi konflik geopolitik bahkan telah pecah menjadi peperangan militer, menjadi penghalang utama dari pulihnya aktivitas ekonomi, menghambat arus perdagangan dan investasi, serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan,” jelasnya. Sri Mulyani juga menandaskan bahwa, “Ini merupakan pertumbuhan (investasi) yang cukup rendah, mencerminkan ketidakpastian global dan juga ketidakpastian dari sisi confidence pelaku ekonomi untuk bisa melakukan tindakan investasi.”