Fenesia – Eric Moussambani, perenang asal Guinea Khatulistiwa, membawa kejutan besar di ajang Olimpiade Sydney 2000. Meski tak meraih medali, perjalanannya menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.
Anak desa yang baru delapan bulan belajar berenang ini harus menghadapi tantangan ekstrem. Latihannya dilakukan di sungai yang dihuni buaya, jauh dari fasilitas kolam renang yang memadai. Namun, semangatnya tak pernah padam.
“Pada 50 meter terakhir itu, sejujurnya, saya sangat lelah sehingga saya ingin berhenti,” akunya kepada Sydney Morning Herald. Meski begitu, ia tetap berjuang hingga garis finis.
Waktu tempuhnya yang sangat lambat, 1 menit 52 detik, justru membuatnya menjadi pusat perhatian. Alih-alih diejek, aksinya justru dianggap sebagai simbol semangat juang yang luar biasa.
“Ketika bangun, di televisi saya bisa melihat foto-foto saya. Saya pikir saya melakukan sesuatu yang salah,” ungkapnya terkejut.
Popularitasnya meledak seketika. Ia diundang ke berbagai acara dan bahkan mendapat hadiah sepatu dari pemilik toko. Di negaranya, ia dianggap sebagai pahlawan.
Keberhasilan Eric menginspirasi pemerintah Guinea Khatulistiwa untuk lebih memperhatikan sektor olahraga. Sayangnya, ia gagal lolos ke Olimpiade Athena 2004 karena kendala administrasi. Kini, ia fokus menjadi pelatih renang dengan harapan bisa membawa negaranya meraih medali Olimpiade.







