Fenesia – FIFA menanggapi polemik keputusan wasit yang mengeluarkan kartu kuning kedua bagi penyerang Timnas Swiss, Breel Embolo, dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Argentina di Kansas City pada Kamis (30/7/2026).
Dilansir dari ESPN dan L’Equipe, insiden tersebut memicu perdebatan panjang setelah International Football Association Board (IFAB) mengonfirmasi bahwa penggunaan protokol Video Assistant Referee (VAR) dengan klausul mistaken identity dalam kasus tersebut tidak sesuai dengan aturan yang berlaku saat ini.
Protokol VAR seharusnya hanya digunakan untuk memastikan identitas pemain yang menerima kartu kuning, bukan untuk meninjau atau mengubah keputusan terkait pelanggaran simulasi atau diving.
Peristiwa ini bermula pada menit ke-72 ketika Breel Embolo dianggap melakukan diving setelah berduel dengan gelandang Argentina, Leandro Paredes.
Wasit awalnya memberikan kartu kuning kepada Leandro Paredes, namun setelah intervensi VAR, keputusan berubah dan Breel Embolo justru menerima kartu kuning kedua yang berujung pada pengusiran dari lapangan.
Keputusan tersebut berdampak signifikan terhadap jalannya pertandingan yang berakhir dengan kekalahan Swiss dengan skor 1-3 dari Argentina.
Pelatih Timnas Swiss, Murat Yakin, menyatakan kekecewaannya secara terbuka setelah pertandingan berakhir.
“Wasit membuat keputusan yang salah, aturan ini menghancurkan permainan kami hari ini dan sangat menyakitkan tersingkir dengan cara seperti ini,” kata Murat Yakin.
IFAB dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa klausul mistaken identity tidak dapat digunakan untuk meninjau atau mengubah jenis pelanggaran di lapangan.
“Kartu kuning yang bukan kartu kuning kedua hanya dapat ditinjau untuk mengidentifikasi pemain yang melakukan pelanggaran, pelanggaran itu sendiri tidak dapat ditinjau dan diubah,” kata pihak IFAB.
Pihak IFAB menambahkan bahwa peninjauan terhadap protokol VAR telah berlangsung sejak Maret 2026, namun penggunaan klausul tersebut untuk kasus simulasi belum dapat diterapkan secara resmi.
Menanggapi surat edaran IFAB, FIFA melalui pernyataan resmi di media sosial membantah bahwa keputusan wasit tersebut merupakan sebuah kesalahan.
“Kami tidak menganggap ini sebagai kesalahan wasit atau VAR dan keputusan itu justru memulihkan keadilan,” tulis akun @fifamedia.
FIFA mengklaim bahwa mereka telah berkomunikasi dengan IFAB dan mendapatkan konfirmasi bahwa penafsiran tersebut valid serta akan menjadi bagian dari pembahasan revisi protokol VAR di masa depan.
Lebih lanjut, FIFA menyatakan bahwa aturan mengenai kekeliruan identitas telah diterapkan secara konsisten sepanjang turnamen Piala Dunia 2026.
Organisasi sepak bola dunia tersebut mencatat terdapat dua kejadian di mana pemain keliru diidentifikasi sebagai pelaku pelanggaran dan VAR membantu memperbaiki kesalahan faktual tersebut.
Polemik ini menambah daftar kritik terhadap kinerja wasit sepanjang gelaran Piala Dunia 2026, menyusul keluhan serupa yang sebelumnya dilontarkan oleh pihak Timnas Mesir.
Hingga saat ini, perdebatan mengenai batasan intervensi VAR masih menjadi sorotan utama bagi para pengamat sepak bola internasional.






